Rabu, 29 Januari 2014

Lesbian Party



1. Tante Lis


Tante Lis berusia 45 tahun dengan ukuran payudara 38 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tinggal di Yogyakarta. Sedangkan Ibu Susi berusia 40 tahun dengan ukuran payudara 38 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai dosen di Malang dan juga tinggal di sana. Suami mereka berdua adalah kakak beradik dan sibuk bekerja di luar negeri.



Mereka berdua menjadi lesbian ketika suatu sore Tante Lis ditelepon oleh seseorang yang mengaku sebagai relasi suaminya di Inggris, namanya Jennifer. Dia orang Amerika. Dia mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan tentang suaminya. Tante Lis disuruhnya datang ke hotel tempatnya menginap sore itu juga. Di Hotel Garuda. Kebetulan Ibu Susi sedang liburan di tempat Tante Lis. Sehingga diajak pula Ibu Susi. Setelah melapor ke resepsionis hotel, mereka berdua langsung menuju ke kamar Jennifer. Mereka disambut Jennifer sendiri.

"Selamat sore," sapa Jennifer ramah dalam bahasa Indonesia meskipun agak kaku.
"Selamat sore," jawab Tante Lis.
"Bisa ketemu dengan Jennifer," sambung Tante Lis.
"Saya sendiri. Ibu siapa?"
"Saya Nyonya Hermawan," jawab Tante Lis menyebutkan nama suaminya.
"Ooo.. Maaf Bu. Saya tidak tahu."
Jennifer lalu menjabat tangan Tante Lis.
"Dan ini kerabat saya," kata Tante Lis.
"Susi," kata Ibu Susi sambil menjabat tangan Jennifer.
"Mari, silakan masuk! Maaf kursinya saya pakai untuk menaruh tas. Saya hanya semalam di sini. Kita duduk di tempat tidur saja."

Mereka bertiga masuk dan lalu duduk di tepian tempat tidur.
"Kenapa hanya semalam?" tanya Ibu Susi.
"Saya kebetulan hanya mampir untuk membicarakan masalah Pak Hermawan. Besok saya sudah berangkat ke Australia."
"Bagaimana dengan suami saya?" tanya Tante Lis.
"Dia terlibat suatu masalah."
Kemudian Jennifer menceritakan masalah yang dihadapi suami Tante Lis. Sampai akhirnya mereka bertiga terdiam beberapa saat. Tiba-tiba..
"Saya mohon kepada anda untuk menolong suami saya," kata Tante Lis kepada Jennifer.
"Saya sebetulnya tidak bisa menolong Pak Hermawan. Bisa, asal.."

Jennifer tidak melanjutkan kata-katanya. Tetapi tangannya melepaskan kancing baju yang dipakai Tante Lis yang duduk di sampingnya. Tante Lis diam saja. Dibelainya bagian atas payudara kirinya yang masih ditutupi BH.
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."
Kedua tangan Jennifer lalu bergerak ke belakang, melepas tali BH yang dipakai Tante Lis. Salah satu tangannya maju ke depan dan meremas payudara kanan Tante Lis.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
Ibu Susi yang sedang duduk di samping Tante Lis dan sedang membaca majalah terkejut mendengar suara yang keluar dari mulut Tante Lis. Dilihatnya kedua tangan Jennifer sedang meremas kedua payudara Tante Lis sedangkan kedua tangan Tante Lis melepas baju yang dipakai Jennifer. Sekarang bibir mereka berdua sudah saling menempel dan kedua lidah mereka saling mengulumdengan hangat. Ibu Susi yang melihat itu tidak kuat menahan nafsu. Diremasnya kedua payudaranya sendiri yang masih ditutupi pakaiannya.

Baju Tante Lis sekarang sudah terlepas dari tempatnya dan kedua tangannya melepas kaos dalam yang dipakai Jennifer sambil tetap berciuman. Bibir Tante Lis terlepas dari bibir Jennifer demi dilihatnya kedua payudara Jennifer yang ukurannya dua kali lebih besar dari miliknya meskipun tubuhnya biasa saja. Jennifer yang merasakan hal itu lalu merebahkan diri sambil menarik tubuh Tante Lis. Sehingga mulut Tante Lis jatuh tepat di atas payudara kiri Jennifer. Dijilatinya payudara kiri Jennifer tersebut sambil tangan kirinya memilin-milin puting payudara kanan Jennifer. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Ibu Susi melihat hal tersebut. Nafsunya semakin panas sehingga sekarang tangannya menarik tangan kiri Tante Lis dari payudara kanan Jennifer dan mulutnya ikut beraksi. Dijilatinya payudara kanan Jennifer sambil tangannya meremas payudara kanan Jennifer. Kedua tangan Jennifer akan meremas kedua payudara Tante Lis. Tetapi tangan kirinya dipegang tangan Tante Lis. Sedangkan tangan kanannya dipegang tangan Ibu Susi. Tante Lis dan Ibu Susi sibuk mempermainkan kedua payudara Jennifer sampai akhirnya Ibu Susi kelelahan dan terlentang di samping kanan Jennifer. Jennifer yang merasa tidak bisa apa-apa ketika kedua payudaranya dipermainkan kedua tamunya kemudian mengangkat kepala Tante Lis yang masih sibuk. Tante Lis tahu diri dan kemudian dia ikut terlentang di samping kiri Jennifer. Tidak lama, setelah Jennifer bangkit dari tempat tidur, Tante Lis menghampiri Ibu Susi. Tante Lis dengan cekatan melepas pakaian bagian atas Ibu Susi yang masih berpakaian lengkap.

Sekarang mereka berdua sudah setengah telanjang dan Tante Lis lalu menindih Ibu Susi. Kedua payudara mereka saling menempel. "Ouohh.." Mulut mereka berdua sama-sama mengeluarkan suara yang disambut dengan kedua bibir mereka yang saling berciuman dan perang antar lidah. Jennifer sendiri setelah bangkit dari tempat tidur lalu melepas celana jeans yang dipakainya. Sekarang dia sudah telanjang bulat karena dia tidak memakai celana dalam. Dia mengambil dua buah dildo berukuran 20 cm dari dalam tasnya. Dia berbalik dan melihat ke tempat tidur. Tante Lis dan Ibu Susi sedang dalam puncak kenikmatan. Mereka berdua sudah telanjang bulat. Mereka berpelukan dan bergulingan di atas tempat tidur. Jennifer melemparkan salah satu dildo ke tempat tidur.Sedangkan yang satunya sedang menari-nari di kedua payudaranya sendiri. Dildo tersebut kemudian naik dan masuk ke dalam mulutnya. Dikeluar-masukkan dildo tersebut. Setelah puas, dildo tersebut turun ke bawah. Dimasukkannya dildo tersebut ke dalam lubang kemaluannya sepanjang 15 cm. Diputar-putar dan digesek-gesekkan dildo tersebut dalam lubang kemaluannya sambil dia menari-nari. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Jennifer terkejut dengan suara tersebut dan dilihatnya Tante Lis dan Ibu Susi sama-sama terlentang sehabis lelah bercumbu. Dilihatnya tangan Ibu Susi memberi isyarat untuk menghampirinya. Jennifer naik ke tempat tidur dan tangannya menggesek-gesekkan dildo yang dilemparnya tadi ke kedua payudara Ibu Susi bergantian. Sedangkan dildo yang satunya masih menggantung di kemaluannya sehingga mirip kemaluan laki-laki meskipun sudah keluar dengan panjang 15 cm. Kemudian dildo tersebut dengan pelan-pelan dimasukkan ke dalam lubang kemaluan Ibu Susi. Dikeluar-masukkan seolah-olah Jennifer adalah seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi seorang wanita. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Sedangkan dildo yang menari-nari di kedua payudara Ibu Susi sekarang sudah menjelajahi kemaluan Tante Lis. Setelah beberapa menit Jennifer mengeluarkan dildo dari dalam liang kemaluannya. Sekarang tangan kanannya mengeluar-masukkan dildo ke dalam lubang kemaluan Tante Lis dantangan kirinya mengeluar-masukkan dildo ke dalam kemaluan Ibu Susi. Kedua tangan Tante Lis dan Ibu Susi juga tidak tinggal diam. Kedua payudara Jennifer yang menantang dijadikan permainan kedua tangan mereka. Diremas, dipilin dan disentil putingnya. "Aaahh.. aahh.. aahh.." Mereka bertiga akhirnya kelelahan. Setelah keluar untuk makan malam, mereka melanjutkan permainan mereka sampai pagi.

Pagi harinya Tante Lis dan Ibu Susi mengantarkan Jennifer ke Bandara. Jennifer meninggalkan masing-masing dildo untuk Tante Lis dan Ibu Susi. Keesokan harinya Ibu Susi juga kembali ke Malang karena masa liburannya sudah habis.

2.Martha

Martha berusia 23 tahun dengan ukuran payudara 36 dan tubuh yang ideal. Dia masih berstatus mahasiswi di sebuah PTS di Yogyakarta. Dia tinggal di rumah kontrakan di Yogyakarta bagian selatan.

Martha menjadi lesbian karena Tante Lis. Martha dan Tante Lis sama-sama menjadi anggota sebuah pusat kebugaran terkemuka di Yogyakarta. Suatu sore, Martha dan Tante Lis berada di tempat ganti pakaian pusat kebugaran tersebut. Hanya mereka berdua karena kebetulan hujan turun dengan derasnya dan membuat banyak anggota pusat kebugaran tersebut enggan datang. Martha melihat Tante Lis yang berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri. Entah mengapa pandangan matanya kali ini beda dari biasanya. Dilihatnya kedua payudara Tante Lis yang seolah-olah ingin keluar dari penutupnya karena ketatnya baju senam yang dipakai Tante Lis. Tante Lis rupanya mengetahuinya.

"Ada apa Mbak?"
"Ah.. Tidak apa-apa Tante."
"Tidak apa-apa kok melihat kedua payudara saya."
Martha kaget kalau ternyata Tante Lis mengetahuinya pandangan matanya. Akhirnya keluarlah beberapa kata dari mulutnya.
"Kedua payudara Tante besar dan indah."
"Punyamu juga besar dan indah."
Tante Lis lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah bedak talk. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan membelakangi Martha.
"Mbak, bisa Tante minta tolong?"
"Bisa, Tante mau apa?"

Martha menghampiri Tante Lis yang sedang menurunkan pakaian senamnya sehingga sekarang punggungnya terbuka.
"Tolong taburkan bedak talk ini ke punggungku dan gosokkan sekalian."
Martha menerima bedak talk kemudian menaburkannya ke punggung Tante Lis. Dia lalu menggosoknya dengan biasa saja.
"Aaahh.."
"Kenapa Tante?"
"Tidak apa-apa. Kamu mau tidak menggosok bagian depan?"
"Mau Tante. Tetapi jangan di sini. Nanti ketahuan orang lain."
"Cuek saja."

Martha ingin menolak. Tetapi terlambat. Tante Lis sudah membalikkan tubuhnya. Kedua payudaranya yang menantang membuat Martha langsung menaburi bedak talk ke kedua payudara Tante Lis. Digosoknya kedua payudara Tante Lis dengan kedua tangannya. Diremasnya kedua payudara Tante Lis.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
"Mbak mau?" tawar Tante Lis.
Tanpa menunggu persetujuan Martha, Tante Lis sudah menurunkan pakaian senam yang dipakaiMartha. Dilihatnya kedua payudara Martha yang hanya terdiam sambil menyerahkan bedak talk. Tante Lis menerima bedak talk tersebut dan didorongnya Martha ke tembok. Martha disandarkan ke tembok dan mulut Tante Lis sudah menjilati payudara kiri Martha. Sedangkan tangan kirinya mengusapkan bedak talk ke payudara kanan Martha. "Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Hanya itu yang keluar dari mulut Martha. Tangannya meraih tangan kiri Tante Lis dan melepaskan bedak talk yang dipegangnya. Dibimbingnya tangan kiri Tante Lis untuk membelai payudara kanan Martha. Tante Lis tidak hanya membelai tetapi juga memilin-milin puting payudara kanan Martha."Aaahh.. aahh.. aahh.." Mendengar suara itu Tante Lis semakin bergairah untuk mencumbui Martha. Dilepaskannya pakaian senam yang dipakai Martha yang masih menutupi bagian bawah tubuhnya sambil tetap memainkan kedua payudara Martha. Mulutnya turun ke bawah. Mulutnya tepat pada kemaluan Martha. Lidahnya dikeluarkan. Disentuhkannya ujung lidahnya ke kemaluan Martha berulang-ulang.

Sekarang Tante Lis sudah menjilati kemaluan Martha sambil jari telunjuk tangan kanannya membuka lubang kemaluan Martha dan tangan kirinya masih menikmati permainan kedua payudara Martha. Lidahnya dimasukkan ke dalam celah lubang kemaluan Martha. Lidah Tante Lis sudah merasa puasbermain-main di kemaluan Martha. Sekarang jari-jarinya dikeluar-masukkan ke dalam liang kemaluannya. Dikocoknya pelan-pelan. Mulut Tante Lis rupanya belum puas dan ikut membantu jari-jari Tante Lis dalam mempermainkan kemaluan Martha. Berkali-kali Martha mendesah. "Aaahh.. aahh.. aahh.." Tante Lis menghentikan permainannya sebentar. Dia melepaskan apa yang masih menutupi tubuhnya. Kemudian dengan bantuan jari-jari pada kedua tangannya Tante Lis menempelkan kemaluannya ke kemaluan Martha.

"Aaahh.. aahh.. aahh.." Suara yang keluar dari mulutnya dan mulut Martha disambut dengan menempelnya kedua payudara Tante Lis pada kedua payudara Martha. "Ouohh.." Lagi-lagi suara yang keluar dari mulut mereka berdua disambut dengan menempelnya kedua bibir mereka. Mereka berciuman dengan saling berebutan untuk menjilati lidah. Tante Lis menggerak-gerakkan tubuhnya. Kedua payudaranya dan kedua payudara Martha saling bergesekan. Begitu juga dengan kedua kemaluan mereka. Setelah beberapa saat Tante Lis menghentikan permainan itu. Dia melepaskan tubuhnya pada tubuh Martha. Dia berbalik dan membungkuk mengambil pakaiannya. Ketikadia berdiri, dari belakang Martha memeluknya.
"Kamu belum puas?"
"Belum Tante."
"Benar?"
"Benar Tante."

Kemudian Tante Lis membalikkan tubuhnya dan bersamaan dengan itu Martha ganti mendorongnya ke tembok. Dilihatnya lagi kedua payudara Tante Lis. Kemudian digesek-gesekkan puting kedua payudaranya ke kedua puting payudara Tante Lis. Keduanya sama-sama mengeluarkan suara. "Ouohh.."

Bibir Tante Lis ingin mencium bibir Martha. Tetapi sengaja Martha menghindar. Martha lalu ganti ingin memperlakukan Tante Lis seperti apa yang telah diperlakukan padanya. Mulut Martha lalu turun ke bawah menjilati payudara kanan Tante Lis. Sedangkan tangan kanannya membelai payudara kiri Tante Lis dan juga memilin-milin puting payudara kiri Tante Lis. Mulutnya turun ke bawah sambil tetap mempermainkan kedua payudara Tante Lis. Mulutnya tepat pada kemaluan TanteLis. Lidahnya dikeluarkan. Disentuhkannya ujung lidahnya ke kemaluan Tante Lis berulang-ulang. Sekarang Martha sudah menjilati kemaluan Tante Lis sambil jari telunjuk tangan kirinya membuka kemaluan Tante Lis dan tangan kanannya masih menikmati permainan kedua payudara Tante Lis.

Lidahnya dimasukkan ke dalam celah kemaluan Tante Lis. Lidah Martha sudah merasa puas bermain-main di liang kemaluan Tante Lis. Sekarang jari-jarinya dikeluar-masukkan ke dalam lubang kemaluannya. Dikocoknya pelan-pelan. Mulut Martha rupanya belum puas dan ikut membantu jari-jari Martha dalam mempermainkan lubang kemaluan Tante Lis. Berkali-kali Tante Lismendesah. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Akhirnya mereka berdua berpelukan erat sambil berciuman. Kedua payudara mereka saling menempel. Kedua kemaluan mereka juga saling menempel. Mereka berdua saling membelai punggung dengan halus. Tante Lis menambahi dengan jari telunjuk tangan kanannya yang masuk mengocok lubang pantat Martha. Martha mengikutinya dengan juga memasukkan jari telunjuk tangan kanannya yang masuk mengocok lubang pantat Tante Lis. Bibir mereka melepaskan ciuman dan keluarlah suara.. "Aaahh.. aahh.. aahh.."
Demikianlah keduanya mencapai puncak orgasme setelah memainkan lobang pantat masing-masing.

3 Widya Dan Susan

Widya berusia 22 tahun dengan ukuran payudara 36 dan tubuh yang ideal. Dia masih berstatus mahasiswi di sebuah PTS di Yogyakarta. Sedangkan Susan berusia 26 tahun dengan ukuran payudara 36 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai karyawan sebuah kantor swasta di Yogyakarta. Mereka berdua tinggal di asrama putri tempat Ibu Anna di Yogyakarta bagian utara.

Mereka berdua menjadi lesbian ketika suatu pagi berebutan kamar mandi. Ada 2 kamar mandi di asrama yang berpenghuni cuma 4 orang. Satu kamar mandi sedang dipakai orang. Sedangkan yang satu masih kosong. Secara serempak mereka berdua sudah berada di depan kamar mandi.
"Aku tergesa-gesa," kata Widya.
"Aku juga tergesa-gesa," kata Susan.
Mereka terdiam beberapa saat sampai kedua mulut mereka serempak mengeluarkan suara.
"Sama-sama saja."

Mereka berdua langsung masuk ke kamar mandi dan Susan mengunci pintu kamar mandi tersebut.
"Tapi bagaimana caranya. Gayung cuma satu, sabun cuma satu, pasta gigi cuma satu," kata Susan.
"Iya. Dan juga aku malu kalau telanjang," kata Widya.
"Kalau itu tidak masalah. Kita saling membelakangi."
"Begini saja. Kamu dulu yang mandi. Aku gosok gigi dulu."

Kemudian Susan melepaskan seluruh pakaiannya dan menaruhnya di gantungan di belakang pintu kamar mandi. Dan di belakangnya Widya berdiri menunggu di pinggir bak mandi. Lalu mereka berputar haluan. Ganti Widya yang melepaskan seluruh pakaiannya dan menaruhnya di gantungan di belakang pintu kamar mandi. Kemudian dia menggosok giginya. Di belakangnya Susan sedang mengguyur tubuhnya dengan air. Setelah cukup, mereka berputar haluan kembali. Susan dengan membawa sabun berdiri menghadap pintu. Sedangkan di belakangnya giliran Widya yang mengguyur tubuhnya dengan air. Kemudian..
"San, sabunnya sudah?"
"Sudah. Ini," kata Susan sambil membalikkan tubuhnya yang penuh busa sabun.

Bersamaan dengan itu Widya juga membalikkan tubuhnya. Mereka kaget dan serentak menutupi tubuh seadanya. Tangan kanan mereka menutupi kedua payudara dan tangan kiri mereka menutupi kemaluan. "Aku sudah lihat punyamu Wid. Buka saja. Kenapa ditutup?" Widya tidak membuka tangan kanannya yang menutupi kedua payudaranya. Dibukanya tangan kirinya dan dibukanya tangan kanan Susan yang menutupi kedua payudaranya. Susan diam saja ketika Widya membelai payudara kirinya yang penuh busa sabun dan meremasnya. Dipilinnya puting payudara Susan. Yang keluar dari mulutnya hanya sebuah suara. "Aaahh.. aahh.. aahh.." Setelah Widya puas Susan berkata, "Punyamu aku sabuni ya?" Widya hanya mengangguk dan membuka tangan kanannya yang masih menutupi kedua payudaranya.

Susan kemudian mengusapkan sabun yang sejak tadi dipegangnya ke payudara kanan Widya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mengambil busa sabun dari payudara kirinya sendiri dan diusapkan ke payudara kiri Widya. Tidak lupa kedua puting Widya juga dipilin-pilin. Susan tidak hanya menyabuni kedua payudara Widya. Seluruh tubuh Widya disabuninya dengan usapan yangmenggairahkan sambil kedua payudaranya sendiri sesekali disentuhkan ke tubuh Widya. "Ehmm.. ehmm.. ehmm.." Ganti Widya yang mengeluarkan suara dari mulutnya. Tubuh mereka berdua sudah penuh dengan busa sabun. Susan dari belakang memeluk Widya dan kedua tangannya bergerak ke seluruh tubuh Widya. Widya yang dipeluk tidak ingin kenikmatan itu hanya milik Susan. Kedua tangannya juga bergerak ke seluruh tubuh Susan. Dia berkata sambil mendesah, "San.. tadi sebetulnya kamu tidak usah membalik tubuhmu. Cukup aku saja. Jadi kita tidak begini akhirnya."
"Maksudku juga begitu. Aku membalikkan tubuhku dengan harapan kamu tetap menghadap bak kamar mandi."

Kemudian sambil tetap dipeluk Susan, Widya membalikkan tubuhnya sehingga kedua payudara mereka saling menempel. "Ouohh.." Mereka berdua saling menggesekkan kedua payudara mereka sampai akhirnya mereka berdua sadar dengan apa yang terjadi dan serempak berkata, "Kita kan tergesa-gesa." Mereka melepaskan pelukan dan karena Susan yang mendapatkan gayung lebih dulu dia yang membilas tubuhnya. Widya tidak sabar dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Susan. Mereka berdua kembali terlena dengan keadaan tubuh yang baru terkena satu guyuran air. Mereka berdua saling membersihkan sisa busa sabun pada tubuh mereka berdua. Desahan-desahan kenikmatan keluar dari mulut mereka berdua. "Ehmm.. ehmm.. ehmm.." Beberapa menit mereka saling membersihkan busa sabun sambil sesekali tubuh mereka diguyur air. Setelah selesai mereka mengeringkan tubuh mereka dengan handuk. Mereka keluar bersama-sama dan Widya berkata kepada Susan, "San, nanti malam lagi ya?" Susan hanya mengangguk.

Dan tanpa menunggu malam ketika sore hari Widya selesai mandi, Widya waktu itu berani hanya melilitkan handuk ke tubuhnya karena keadaan asrama sedang sepi. Dia kaget melihat Susan sudah berada di dalam kamarnya masih dengan memakai pakaian kerjanya. Dia hanya sebentar kaget kemudian tersenyum. "Wid, aku sebetulnya mau menyusul kamu mandi. Tetapi kamu mungkin tidak dengar. Jadi aku tunggu di sini." Widya menghampiri Susan yang duduk di tepi tempat tidur dan duduk di sampingnya. Dibelainya paha Susan yang tidak tertutupi rok mini yang dipakainya.Kemudian, "Sebentar ya San. Aku pakai pakaian dulu." Widya kemudian berdiri menghampiri lemari dan di depan lemari dia melepaskan handuknya. Dia mencari-cari pakaian dari dalam lemari.
"Kamu menantang aku ya? Tidak usah pura-pura cari pakaian."
"Rupanya kamu tahu."

Widya kemudian membalikan tubuhnya dan dilihatnya Susan sedang melepaskan BH-nya dan kemeja yang dipakainya hanya dilepaskan kancingnya. Setelah BH Susan terlepas, dengan cepat kedua tangan Widya melepaskan kemeja yang dipakai Susan sambil bibirnya mendarat di bibir Susan. Mereka berciuman dan saling menjilat lidah. Kedua payudara mereka saling menempel. Kedua puting payudara mereka saling digesekkan. Kemudian Widya menghentikan ciumannya dan dia duduk bersimpuh di depan Susan. Dibelainya paha Susan dengan kedua tangannya. Sedangkan Susan menikmati remasan kedua tangannya pada kedua payudaranya. Kedua tangan Widya lalu naik ke atas dan masuk ke dalam rok mini yang dipakai Susan. Dia berusaha melepaskan celana dalam yang dipakai Susan. Berhasil.

Pada waktu yang sama Susan yang mengetahui Widya sedang berusaha melepaskan celana dalamnya lalu menghentikan remasan pada kedua payudaranya. Kedua tangannya melepaskan rok mini yang dipakainya. Sekarang Susan sudah telanjang bulat. Widya kemudian membimbing Susan ke tempat tidur. Dan mereka pun bercumbu dengan nikmatnya hingga fajar menyingsing. Dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengamati percumbuan mereka..

4. Anita dan Angga

Anita berusia 17 tahun dengan ukuran payudara 34 dan tubuh yang ideal. Dia masih berstatus siswa sebuah SMU di Yogyakarta. Sedangkan Angga berusia 23 tahun dengan ukuran payudara 36 dan tubuh yang ideal. Dia masih berstatus mahasiswi di sebuah PTS di Yogyakarta. Mereka berdua tinggal di asrama putri tempat Ibu Anna di Yogyakarta bagian utara.

Mereka berdua menjadi lesbian ketika suatu sore Angga yang baru pulang dari rumah temannya mendengar suara-suara aneh dari kamar Widya. Angga penasaran dan melihat pintu kamar Widya sedikit terbuka. Dilihatnya Widya yang sedang menjilati kemaluan Susan dan tangan Susan yang meremas payudara kanannya sendiri. Tubuh mereka berdua telanjang dan banjir keringat. Tanpa sadar tangan Angga bergerak ke atas dan meremas kedua payudaranya sendiri yang masih ditutupi pakaiannya. Dia lalu tersadar dengan apa yang telah dilihatnya. Kemudian dia beranjak dari samping pintu kamar Widya dan masuk ke kamarnya. Dia kemudian melepas pakaiannya. Dia teringat kejadian di kamar Widya. Entah mengapa kemudian Angga yang tinggal memakai pakaian dalam kemudian menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Dilepasnya BH yang masih dipakainya. Kemudian dia meremas kedua payudaranya.

"Aaahh.. aahh.. aahh.." Angga terus meremas kedua payudaranya dan sesekali memilin putingnya sambil membayangkan Widya dan Susan masuk ke kamarnya. Dia berdiri dan Widya dari depan tanpa bertanya lagi melepas celana dalam yang dipakai Angga dan lalu menjilati kemaluannya. Sedangkan Susan dari belakang melepas BH yang dipakai Angga dan kemudian dari belakang meremas kedua payudaranya. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Tangan Angga menghentikan remasan pada kedua payudaranya dan turun ke bawah. Tangannya dimasukkan ke dalam celana dalamnya. Sekarang jari-jarinya dikeluar-masukkan ke dalam lubang kemaluannya. Dikocoknya pelan-pelan. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Setelah beberapa lama bermasturbasi, Angga akhirnya tertidur dalam keadaan tinggal memakai celana dalam. Keesokan harinya Angga terbangun setelah mendengar pintu kamarnya diketok. Dia membuka matanya dan memperhatikan jam dinding di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 10:00. Angga terkejut karena dia bangun kesiangan dan dia akhirnya lega ketika mengetahui bahwa hari ini dia libur kuliah. Terdengar pintu kamarnya diketuk lagi. Dia lalu bangun dan mengambil daster kaos dari dalam lemari dan dipakainya. Dibukanya pintu kamarnya dan dilihatnya Anita yang masih menggenakan seragam sekolahnya.

"Mari masuk Nit!"
Kemudian Anita masuk.
"Kamu kesiangan juga Nit?" tanya Angga.
"Aku pulang pagi Mbak," jawab Anita sambil duduk di karpet yang ada di kamar Angga.
Dia mengambil sebuah majalah tetapi tidak dibacanya.
Dia bertanya kepada Angga, "Mbak. Tadi malam lihat tidak?"
"Lihat apa?"
"Di kamar Mbak Widya."
Angga terkejut mendengar perkataan Anita. Kebetulan, pikir Angga.
"Kamu mau melakukannya?"
Tanpa menunggu persetujuan Anita, tangannya sudah memegang tangan kanan Anita dan diremaskannya ke payudara kirinya. Tangan kiri Anita dengan sendirinya membelai paha Angga dan bibirnya dengan pelan mendarat di bibir Angga. Keduanya berciuman dan saling perang antar lidah. Tangan Angga melepas kancing baju seragam yang dipakai Anita. Anita menghentikan ciuman dan belaiannya pada paha Angga. Dia melepas baju seragamnya. Kemudian mengangkat daster kaos yang dipakai Angga sampai terlihat kedua payudaranya. Dibelainya payudara kanan Angga. Angga pun melepasdaster kaosnya sehingga Anita dengan leluasa menghisap payudara kiri Angga sambil tetap membelai payudara kanannya.
"Aaahh.. aahh.. aahh.."
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Tangan Anita menghentikan belaiannya pada payudara kanan Angga. Dan kini dihisapnya payudara kanan Angga sambil dia melepas kaos dalam dan BH yang masih dipakainya. Dia lalu menelentangkan Angga dan menindihnya sehingga kedua payudara mereka saling menempel. Kedua puting payudara mereka saling digesekkan. "Ouohh.."

Setelah beberapa lama saling menggesekkan kedua payudara. Anita kemudian menggeser tubuhnya ke samping Angga sambil tetap tengkurap. Dilepasnya rok seragam yang masih dipakainya dan tidak ketinggalan celana dalamnya. Angga juga melepas celana dalamnya dan duduk sambil membelai punggung Anita. Dia kemudian menggesek-gesekkan kedua payudaranya ke punggung Anita. Anita lalu ikut duduk dan mereka berdua saling membelai kedua payudara. "Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Anita menceritakan bahwa semalam dia yang baru pulang dari berbelanja keperluan sekolahnya. Dia melewati kamar Widya dan tanpa sengaja melihat Widya dan Susan berpelukan erat sambil berciuman. Kedua payudara mereka saling menempel. Kedua kemaluan mereka juga saling menempel. Mereka berdua saling membelai punggung dengan halus. Mereka berdua saling mengocok lubang pantat dengan jari telunjuk tangan kanan. Angga terangsang dengan cerita Anita dan kini mereka berdua sudah saling menjatuhkan. Anita kalah dan kemaluannya langsung digarap oleh Angga. Dia menungging dan dikangkangnya kaki Anita. Mulutnya tepat pada kemaluan Anita. Lidahnya dikeluarkan. Disentuhkannya ujung lidahnya ke kemaluan Anita berulang-ulang.

Sekarang Angga sudah menjilati liang kemaluan Anita sambil jari telunjuk tangan kirinya membuka lubang kemaluan Anita. Lidahnya dimasukkan ke dalam celah lubang kemaluan Anita. Lidah Martha sudah merasa puas bermain-main di kemaluan Anita. Sekarang jari-jarinya dikeluar-masukkan ke dalam lubang kemaluannya. Dikocoknya pelan-pelan. Mulut Angga rupanya belum puas dan ikut membantu jari-jari Angga dalam mempermainkan lubang kemaluan Anita. Berkali-kali Anita mendesah. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Kini puting payudara kiri Angga digesek-gesekkan ke kemaluan Anita. Kedua tangannya juga meremas kedua payudara Anita bekerja sama dengan kedua tangan Anita. "Aaahh.. aahh.. aahh.." Akhirnya Angga menghentikan permainannya. Dia berdiri dan Anita juga ikut berdiri. Angga membungkukkan badannya dan berpegangan pada kursi. Kakinya dikangkangkan. Anita tahu maksudnya. Dia merebahkan tubuhnya tepat di bawah tubuh Angga. Kedua tangannya kemudian meremas kedua payudara Angga. Kemudian kedua tangannya menuju lubang kemaluan Angga. Jari telunjuk tangan kirinya membuka lubang kemaluan Angga. Kemudian jari-jarinya dikeluar-masukkan ke dalam lubang kemaluannya. Dikocoknya pelan-pelan. Jari-jarinya juga dikeluar-masukkan ke dalam lubang pantat Angga. "Aaahh.. aahh.. aahh.." Pelan-pelan tubuh Angga turun ke bawah dan lubang kemaluannya tepat di lubang kemaluan Anita. Dia menindihi Anita. Tetapi mereka berdua tidak melakukan apa-apa. Kemudian Angga berdiri dan duduk di kursi. Anita juga ikut berdiri.

"Sini Nit.!"
Anita kemudian menghampiri Angga. Angga membimbing Anita untuk duduk di pangkuannya dengan posisi terbalik. Mereka berdua berpelukan erat sambil berciuman. Kedua payudara mereka saling menempel. Kedua kemaluan mereka juga saling menempel. Setelah beberapa lama Anita bangkit dari pangkuan Angga. Dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Angga ingin menghampirinya. Tetapi mereka berdua serentak membenahi pakaiannya ketika mendengar suara mobil masuk ke dalam asrama.

5.Ibu Ana

Ibu Ana berusia 37 tahun dengan ukuran payudara 42 dan tubuh yang ideal. Dia seorang ibu rumah tangga yang mengelola asrama putri yang didiami oleh Widya, Susan, Anita dan Angga. Ibu Ana menjadi lesbian karena Anita. Ketika suatu siang dia ke asramanya dan diterima oleh Anita yangbaru saja bercumbu dengan Angga. Dia memakai daster kaos milik Angga.
"Mari Bu!" kata Anita mempersilakan Ibu Ana duduk.
"Bagaimana kabar anak-anak sini," sambil dia duduk di sofa panjang.
Anita kemudian menceritakan keadaan teman-teman satu asramanya. Tiba-tiba Angga muncul.
"Maaf Bu, saya mau pergi," kata Angga.
"Silahkan," jawab Ibu Ana.

Ketika itu Anita tanpa sengaja melihat kedua payudara Ibu Ana yang masih ditutupi pakaiannya.
"Ada apa Nit?" tanya Ibu Ana.
"Tidak apa-apa Bu," jawab Anita.
"Ibu darimana?" sambung Anita.
"Berbelanja."

Ibu Ana lalu mengeluarkan beberapa barang dari tas plastik dan diletakkan di meja. Barang-barang itu memang disediakan Ibu Ana setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di asramanya. Kebetulan Ibu Ana memperoleh menjadi anggota dari sebuah agen produk kecantikan. Anita tertarik pada sebuah barang yang setelah dikeluarkan dari tas plastik tidak diletakkan di meja tetapi dimasukkan ke tas kecilnya.

"Itu apa Bu?"
"Ini buat Ibu."
Diserahkannya sebuah botol kecil ke Anita. Sebuah cream untuk membantu memperbesar dan memperindah payudara.
"Jadi ini ya? Yang membuat payudara ibu jadi besar itu. Saya mau Bu."
"Itu buat kamu saja. Nanti Ibu beli lagi."
"Caranya bagaimana Bu?"
"Tinggal diusap saja di payudaramu."
"Beri contoh Bu."
"Malu saya kalau.." Ibu Ana menghentikan perkataannya.
"Malu apa Bu?"
Ibu Ana hanya diam.
"Malu telanjang ya?"
Ibu Ana hanya menggangguk.
"Kenapa malu Bu. Ibu harus bangga mempunyai payudara besar. Atau begini saja Bu. Kalau Ibu malu, aku juga lepas pakaian. Jadi kita sama-sama malu."

Ibu Ana ingin mencegah Anita melepas pakaiannya. Terlambat. Anita sudah melepas daster kaos yang dipakainya.
"Ibu curang. Kenapa tidak lepas pakaian? Aku yang lepas ya Bu?"
Anita menghampiri Ibu Ana yang setengah menghindar untuk dilepas pakaiannya. Tetapi akhirnya Anita berhasil melepas kaos ketat termasuk BH yang dipakai Ibu Ana. Dibelainya kedua payudara Ibu Ana. Ibu Ana sendiri juga membelai kedua payudara Anita.
"Payudaramu juga indah."
"Tetapi tidak besar Bu. Bagaimana cara menggunakan cream ini Bu?"
Ibu Ana menghentikan keasyikannya membelai kedua payudara Anita. Dia mengambil botol cream tersebut.

Dibukanya dan diambil sedikit. Diusapkannya cream tersebut ke payudara kirinya. Diratakan dan diremas-remas. Anita mengikutinya. Tetapi tidak ke payudaranya. Diambilnya sedikit cream dan diusapkan ke payudara kanan Ibu Ana. Anita melakukannya dengan gairahnya yang memanas. Ibu Ana ingin menghindar. Tetapi dia merasakan bahwa remasannya lebih nikmat dari remasan suaminya sendiri. Dia mendiamkan Anita meremas kedua payudaranya. Dia bahkan menikmatinya dan ikut meremas kedua payudara Anita tanpa memakai cream. "Aaahh.. aahh.. aahh.."

Keduanya berpandangan dan tersenyum. Anita kemudian memegang kepala Ibu Ana dan diletakkan di payudara kirinya. Entah mengapa, seolah-olah sudah pernah melakukan. Bibir Ibu Ana menghisap payudara kiri Anita. Tangannya membelai dan meremas payudara kanan Anita. Kemudian Ibu Ana merasa puas dan kemudian merebahkan tubuhnya ke sofa panjang tersebut sambil kakinya masih di bawah. Anita mengangkat kaki Ibu Ana ke atas kemudian dia menduduki paha Ibu Ana bagian atas. Diremasnya kedua payudara Ibu Ana sambil memilin-milin puting payudara kanan Ibu Ana. Tangan Ibu Ana tidak tinggal diam. Dia ingin juga meremas kedua payudara Anita. Tetapi Anita pintar menghindar sehingga Ibu Ana setengah jengkel hanya bisa membelai punggung Anita.

Tidak lama setelah itu Ibu Ana mendorong punggung Anita sehingga tubuh Anita menindih tubuh Ibu Ana. Kedua payudara mereka saling menempel. Kemudian mereka saling menggesek-gesekkan puting kedua payudara. Keduanya sama-sama mengeluarkan suara.
"Ouohh.."
"Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Anita duduk lagi dan membersihkan cream yang menempel di kedua payudaranya gara-gara didorong Ibu Ana. Ibu Ana membantu membersihkan tetapi tidak sekedar membersihkan. Diremasnya payudara kanan Anita dan sekaligus memilin puting payudaranya. Anita selesai membersihkan cream di kedua payudaranya dan lalu membersihkan kedua payudara Ibu Ana. Setelah selesai, Anita memegang kedua tangan Ibu Ana yang asyik mempermainkan kedua payudaranya. Diletakkannya kedua tangan Ibu Ana ke pundaknya dan mendorong sendiri tubuhnya menindih Ibu Ana kembali. Kembali kedua payudara mereka saling menempel. Keduanya kembali sama-sama mengeluarkan suara."Ouohh.."

Kemudian Anita duduk lagi dan mengambil sebuah botol yang ada di meja. Botol tersebut mirip sebuah penis. Disentuhkannya botol tersebut ke bibir Ibu Ana. Ibu Ana yang telah mencapai puncak kenikmatan berusaha mencoba untuk menghisap botol tersebut. Tetapi Anita sengaja hanya menyentuhkannya. Dia menarik botol tersebut dengan lembut turun ke bawah melalui leher danakhirnya sampai diantara kedua payudara Ibu Ana. Botol tersebut digesek-gesekkan turun-naik dan Ibu Ana mengimbangi dengan memegang kedua payudaranya. Dijepitnya botol tersebut dengan kedua payudaranya sedangkan Anita masih terus menggesek-gesekkannya secara turun-naik. Tangan kanannya membelai kedua payudara Ibu Ana bergantian. Anita menghentikan gesekannya dan botol tersebut kini pindah ke payudara kanannya. Disentuhkannya botol tersebut mengelilingi payudara kanannya dilanjutkan dengan aksi botol tersebut mengelilingi payudara kirinya. "Ehmm.. ehmm.. ehmm.."

Ibu Ana hanya melihat, dan setelah Anita selesai dengan permainannya, dia memegang tangan Anita yang memegang botol tersebut. Didorongnya botol tersebut ke mulutnya. Anita lalu mengeluar-masukkan botol tersebut sambil salah satu tangannya dibimbing oleh kedua tangan Ibu Ana untuk meremas kedua payudaranya. Setelah beberapa lama, Anita lalu mengeluarkan botol tersebut dan botol tersebut yang basah diusapkan ke payudara kirinya. Kemudian botol tersebut diletakkan ke meja kembali. Ibu Ana yang melihat payudara kiri Anita basah lalu membersihkan dengan belaian tangannya yang lembut. Kembali mereka terlena dengan belaian-belaian yang menggairahkan dilanjutkan dengan saling meremas.

Setelah puas saling meremas kedua payudara, Anita lalu menyentuhkan kedua puting payudaranya ke kedua puting payudara Ibu Ana. Pelan-pelan dia turun menindihi Ibu Ana sehingga kedua payudara mereka saling menempel. "Ouohh.."

Tidak puas begitu saja, keduanya kemudian melanjutkan permainan binal tersebut hingga titik kenikmatan penghabisan. Sungguh Nikmat hidup ini.

Kawan Lama



Pengalamanku ini terjadi pada tahun 1996 akhir, ketika aku sedang memulai usahaku di kota S. Aku baru saja menyelesaikan urusan pinjaman modalku pada sebuah bank swasta di kota ini. Pada masa itu belum ada tanda-tanda yang mengisyaratkan munculnya bencana ekonomi seperti belakangan ini, sehingga semua urusan banking terasa smooth saja.


Banker yang mengurusi pinjamanku ialah seorang mantan kawan SMA-ku dulu. Sebut saja namanya Nana. Ia baru beberapa bulan bekerja di bank tersebut setelah menyelesaikan studinya di Amerika. Semasa SMA, Nana ialah seorang yang menurutku termasuk golongan nerd. Berkaca mata, duduk di barisan depan, rajin bertanya, dan catatannya selalu laris difotokopi ketika menjelang musim ujian. Sedangkan aku sendiri termasuk golongan urakan, yang selalu mendapat nilai pas-pasan, kecuali untuk pelajaran olah raga. Harus kuakui, Nana tidak banyak berubah. Ia tetap saja nampak kuper dibalik kaca mata minus 3 itu. Untung saja pakaian kerja yang dikenakannya membuatnya nampak lebih 'terbuka'. Aku ingat, ketika itu ia mengenakan blazer warna biru pastel, dan kemeja kuning muda. Ia juga mengenakan rok mini berwarna biru tua, dan sepatu berhak tinggi, sehingga tingginya yang hanya sekitar 165-an itu terlihat hampir menyamai tinggi badanku.

Setelah usai menandatangani tumpukan kontrak dan perjanjian, aku memutuskan untuk mengajaknya makan siang, bukan lagi sebagai kreditor, tapi sebagai seorang kawan lama. Nana setuju saja, mengingat bahwa pinjamanku waktu itu membuatnya memenuhi target bulanannya.

Kami meluncur menuju sebuah hotel yang cukup terkenal di kota S, karena satu gedung dengan pusat perbelanjaan TP3. Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk memesan menu ala carte, karena harga menu buffet tentunya tidak terlalu ekonomis. Selama makan, Nana tampak diam saja, seperti biasanya. Aku mencoba mengamati wajahnya yang manis itu. Kulihat alisnya yang tipis, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, dan lehernya. Leher yang sangat indah, jenjang dan halus. Ketika aku melihat agak ke bawah lagi, kulihat kancing kemejanya yang paling atas tidak dikancingkan sehingga aku dapat berimajinasi bagaimana bentuk bagian tubuhnya yang berada di balik kemeja itu. Selagi asyik-asyiknya menikmati keindahan itu, rupanya Nana mengamatiku dari tadi.
Ia menyunggingkan senyum, mengambil serbet, mengelap bibirnya, dan berkata, "Jen, kamu masih seperti yang aku dengar dulu?".
"Hmm.., Tergantung apa yang kamu pernah dengar dulu", Jawabku agak kikuk.
"Pacaran dengan sesama jenis", Jawabnya lugas. Membuat mataku sedikit terbelalak kaget dan menatap matanya yang bundar lucu itu.
"Yah.., Kalau gosip yang kamu dengar cukup lengkap, seharusnya kamu nggak perlu nanya 'kan?", Jawabku mencoba diplomatis.
"Cukup lengkap untuk bisa blackmail kamu", Katanya.
"Haha, just kidding!", ujarnya lagi agar aku tidak tersinggung. Aku hanya tersenyum saja dan pura-pura berkonsentrasi pada makan siangku.
"Bersyukurlah kamu bisa hidup normal", Kataku mencoba bergaya bijak.
"Hihihi.., Udahlah Jen, kreditnya udah di-approved 'kan?", katanya lagi", Nggak ada yang perlu ditakutin.., kecuali kalau bayarnya nunggak!", Candanya.

Kami terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian aku merasakan sesuatu di betisku. Meja makan kami tergolong kecil, hingga posisi duduk kami cukup dekat, dan kaki kami bisa bersentuhan. Namun kali ini sentuhan itu seperti bukannya tak sengaja. Aku merasakan sentuhan jari kakinya mengusap betisku pelan-pelan, merambat naik ke lututku, bergerak menyusup masuk ke rok miniku, dan bergerak mengusap-usap paha kiriku bagian dalam.

Aku menatap matanya dalam-dalam sambil tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi dia balik memandang wajahku, tersenyum, dilepaskannya gagang sendoknya, lalu tangannya menyentuh lehernya sendiri dengan ujung jari tengah. Seperti orang tolol, pandanganku mengikuti kemana larinya jari-jari lentik itu. Jemarinya bergerak pelan-pelan ke bawah, menyusuri lehernya, turun terus, lalu berhenti ketika tersangkut di kancing kemeja kuningnya. Pada saat itu juga jari kakinya yang sejak tadi diam di antara kedua pahaku disodokannya ke depan, menyenggol kewanitaanku, memang tidak tepat pada bibirnya, namun cukup memberiku sengatan birahi yang mendadak.
"Hkk..", Aku merintih tertahan, memejamkan mataku untuk mengontrol perasaanku. Ketika mataku terbuka, nampak Nana tersenyum padaku, menunjukkan sebaris gigi yang bersih dan indah. Senyuman itu membuatku makin kikuk. Meskipun masa laluku kulewatkan dengan 'bebas', namun penampilan Nana yang anggun membuatku tidak mikir macam-macam padanya.., tapi setelah apa yang dilakukannya ini.., aku tidak tahu lagi. Akhirnya, setelah membisu cukup lama, aku melambaikan tangan pada waiter, dan membayar makan siang.
"Jenn", Katanya sambil meletakkan tangannya di bahuku. "Aku punya membership di hotel ini, dan aku rasa aku perlu istirahat sedikit. Kamu mau menemaniku kan?", Tanyanya dengan kalimat yang lugu namun sudah dapat ditebak artinya. Mengingat hubungan bisnisku dengan banknya, aku memutuskan untuk menurut.
Sebagai wanita, agak sulit bagiku untuk bercumbu rayu begitu saja dengan orang yang cukup asing. Hal itulah yang membuatku bengong saja meskipun kini aku sudah duduk di sofa dalam kamar executive hotel, sementara Nana berdiri di hadapanku dan melepas blazernya dengan gaya yang dibuat-buat agar merangsang. Melihatku tidak berespon, Nana melanjutkan permainannya, ia melepaskan satu persatu kancing kemejanya, lalu menyingkapkan kemejanya sehingga bahu kanannya yang halus dan putih bersih itu terlihat olehku.

Tali bra berwarna putih berenda tampak menghiasi bahu yang indah itu. Aku cukup mengagumi keindahan tubuhnya, namun aku masih segan untuk bereaksi, aku malu karena Nana pernah menjadi orang yang cukup aku hormati. Dilemparkannya kemejanya ke atas ranjang, menyusul bra dan celana dalamnya. Aku hanya diam menatap tubuhnya yang kini hanya terbalut rok mini biru tua itu. Payudaranya nampak indah sekali bentuknya, bulat, tidak terlalu besar namun kencang, putih bersih, dan putingnya kecil sekali berwarna coklat muda. Ia melangkahkan kakinya mendekati tempatku duduk.
"Jenn", bisiknya, "Aku mendengar semua gosip tentang kamu. Tentang anak-anak basket yang lesbi, dan tentang apa yang kamu lakukan dengan guru geografi di perpustakaan waktu itu. In fact, hampir semua orang membicarakannya, namun nggak ada yang berani terang-terangan menuduh", Sambungnya lagi.

Aku tetap diam, menundukkan kepalaku dengan rasa tidak enak.
"Aku iri dengan Reni dan Evelin yang bisa setiap saat mandi bersama kamu, tidur bareng di rumah kost, melihat kamu dengan kaos basah di ruang ganti..", bisiknya lagi, seolah menelanjangi masa laluku yang hendak aku lupakan. Aku tetap tertunduk ketika tiba-tiba Nana meraih kepalaku dan mendongakkannya. Karena posisiku duduk dan dia berdiri, maka mataku langsung berhadapan dengan sepasang payudaranya yang indah itu, dengan puting-puting yang masih flat, menunggu untuk dibangunkan. Aku tetap terdiam, meski jari-jari Nana menyusupi rambutku yang lurus dan pendek, mengusap pipi dan rahangku, mengelus tengkukku lalu aku mendengar suaranya lagi.
"Jenn, please..", Katanya, aku melirik ke atas, menatap matanya. Kaca matanya tak mampu menyembunyikan sorot memelas dari kedua mata bulatnya.

Tanganku memeluk pinggulnya menariknya mendekat. Aku segera mendaratkan bibirku tepat pada puting susu kanannya, menghisap, melingkarinya dengan lidahku, terus-menerus. Aku merasakan cengkeramannya pada kepalaku menguat, aku mendengar desahan nafasnya kian tak teratur, Aku melirik ke wajahnya, aku melihat alisnya menyatu, matanya terpejam, mulutnya ternganga mengeluarkan desahan nafas tak beraturan. Aku ikut kehilangan kontrol, wajahnya begitu membangkitkan hasratku, aku segera memindahkan mulutku ke puting susu kirinya, meremas payudaranya sambil mengulum putingnya, ekspresi wajahnya menunjukkan perasaan kegelian yang amat sangat, tubuhnya menggeliat-geliat kecil, kakinya tampak goyah, tak lama kemudian ia jadi lunglai seperti selembar handuk, rebah di atas karpet tebal kamar itu. Cukup lama aku memainkan kedua payudaranya dengan mulut dan tanganku sementara tangannya sendiri telah masuk ke balik rok mininya.

Tiba-tiba ia mendorongku hingga kini aku berada di bawah tubuhnya. Wajahnya nampak begitu dekat dengan wajahku, ia mendaratkan ciumannya di bibirku, menghisapnya kuat-kuat, sambil tangannya membuka kancing-kancing blazer dan kemejaku. Aku tidak mengerti kenapa aku hanya diam, namun kini aku merasakan tangannya telah menerobos bra Marks & Spencer-ku. Dilepaskannya bibirnya dari bibirku, ia menjilati dan menciumi seluruh rahang dan leherku, memberiku rasa hangat yang nikmat. Ditariknya braku ke atas hingga ia dapat melihat payudaraku. Ia tampak begitu bernafsu memandanginya diremas-remasnya kedua payudaraku dengan gemas sampai terasa agak sakit. Tiba-tiba mulutnya menyerbu puting susuku yang kiri, melumatnya, menghisap, dan menjilatinya. Rangsangan yang tiba-tiba membuatku terpejam dan meringis menahan rasa geli yang tiba-tiba menyerbu. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, aku merasakan gerakan lidahnya semakin menjadi-jadi. Kedua puting susuku dijilati dan dihisapnya bergantian, rasanya geli sekali, tanganku mencoba mencengkeram pinggangnya, namun rasa geli pada puting-putingku terasa membuatku lemas dan aku merasakan sesuatu telah meleleh keluar dari kewanitaanku.

Ditariknya celana dalamku hingga lepas, disingkapkannya rok miniku ke atas, kakiku dikangkangkannya, lalu ia menempelkan kewanitaannya pada kewanitaanku, digosoknya naik turun, aku merasakan hangat dan nikmat yang tak tertahankan, aku merintih dan mengerang keras-keras tak peduli siapa yang akan mendengar. Aku terbaring telentang di atas karpet cokelat muda itu, aku melihatnya seperti menduduki selangkanganku, membuat kewanitaan kami saling bergesekan, tangannya berpegangan pada payudaraku, ibu jari dan telunjukknya memilin-milin keras puting susuku. Ia menggeliat-geliat sambil menaik-turunkan badannya, mendongakkan kepalanya ke atas, hingga aku dapat melihat keindahan rahangnya yang luar biasa.
Aku sendiri menggeliat-geliat mencoba menahan gempuran rasa geli dan nikmat yang mengalir membanjiri tubuhku lewat payudara dan kewanitaanku.
"Aduhh, Nanaa.., ohh..", Aku seolah mendengar sendiri eranganku yang tak beraturan.
"Uhh.., Jennii.., nikmat sekalii", Ia merintih-rintih tak karuan, nafasnya makin memburu, gesekan kewanitaan kami semakin terasa hangat dan lembap, pelintiran dan remasannya membuat payudaraku serasa pegal meskipun kegelian. Aku terengah-engah kegelian, punggungku terangkat dari karpet, melengkung seperti busur panah. Kenikmatan yang kudapatkan serasa merajam tubuhku, putingku terasa pegal dan geli karena diplintir-plintir dari tadi, sementara kewanitaanku terasa berdenyut-denyut, rintihanku semakin tak karuan, birahiku kian memuncak. Hingga akhirnya aku merasakan desakan dari dalam tubuhku menuju kewanitaanku, tubuhku terasa kejang dan kaku, aku berusaha menahan meski sia-sia, kewanitaanku terasa tak mampu membendungnya, hingga akhirnya hentakan orgasme menghantam tubuhku. Aku menjerit keras-keras, mencengkeram pinggang Nana, di tengah serbuan kenikmatan itu, aku sempat melihat badan Nana juga mengejang, gerakannya berhenti, namun aku tak dapat mengingatknya lagi, karena aku langsung mencapai puncak. Cairan kami saling bercampur diantara kewanitaan kami, Nana roboh dan terbaring disampingku, sementara aku sendiri merasa kehilangan seperempat kesadaranku karena orgasme yang lumayan dahsyat itu.

Kami tergeletak berdampingan, dengan tubuh basah oleh keringat, kaki terasa pegal, dan nafas terengah-engah, serta mata terkatup rapat.
Aku melirik tubuh Nana yang telanjang di sampingku, tengah memejamkan mata dan terkulai lemah. Aku sendiri tak kalah lelahnya, tubuhku masih dibalut business suit, namun sudah tersingkap di mana-mana, hingga payudaraku bisa merasakan dinginnya hawa AC ruangan, namun kenikmatan orgasme tadi segera mengantarku ke alam bawah sadar, semua gelap lagi.. Hanya kenikmatan dan kehangatan yang kurasakan mengalir dalam darahku.

Tamat 

Selasa, 28 Januari 2014

Efek Diperkosa Teman Sekolah



Pada suatu hari, aku pulang sekolah agak malam yaitu sekitar pukul 8, soalnya banyak tugas club yang harus dikerjakan dan besoknya harus dikumpulkan. Akhirnya malam itu aku bersama teman-temanku selesai mengerjakan tugas membuat web site club sepak bola di sekolahku. Ooo.. iya aku lupa berkenalan. Aku orang Bandung, dan aku sekarang kelas 1 SMU. Namaku Vicka. Lalu aku menyerahkan disket itu kepada temenku (ketua kelompok) untuk diserahkan kepada guruku besoknya.


Lalu setelah pulang, aku dan temenku berpencar, karena rumahku dekat, maka aku memilih untuk mengambil jalan pintas sebab aku jalan kaki. Pada saat aku melewati gang yang gelap, maka aku sepertinya dibius oleh seseorang. Setelah aku sadar, aku sudah berada di tempat tidur dan aku tidak tahu dimana aku sekarang. Yang kutahu sekarang aku berada dengan 3 orang laki-laki. Laki-laki itu membawa kamera dan handycam. Pada saat itu aku nggak tahu aku mau diapakan, dan kepalaku masih sangat pusing dan tubuhku lemas sekali.

Lalu salah satu laki-laki itu mendatangiku dan melepas bajunya sampai telanjang bulat. Saat itu pula aku sadar kalau aku mau diperkosa. Lalu laki-laki itu ganti melucuti pakaianku satu persatu, sampe pada saat mau melepas BH dan CD-ku aku berusaha untuk melawan tetapi aku tidak bisa karena kepalaku masih sangat pusing dan tubuhku masih lemas. Lalu akhirnya pria itu berhasil melepas semua pakaian yang ada di tubuhku, dan akhirnya aku telanjang bulat. Dia lalu mulai meraba-raba seluruh lekuk tubuhku, aku melihat penisnya yang mulai membesar dan menegang, lalu penisnya digesek-gesekkan ke kaki, perut dan payudaraku.

Entah kenapa tubuhku merasa geli dan payudaraku merasa mengeras. Setelah puas meraba-raba tubuhku yang telanjang bulat, lalu dia mulai memasang semacam alat. Dia berkata kepada temannya, "Ambilkan aku alat kondom". Dan ternyata aku baru sadar bahwa tujuannya berikutnya adalah di vaginaku. Dan aku baru sadar pula bahwa sejak tadi aku telah direkam oleh HandyCam dan oleh kamera foto. Lalu orang itu memasang alat kontrasepsi tersebut ke penisnya yang tegang. Dan seketika itu juga vaginaku dimasuki oleh penisnya bagaikan pesawat roket yang meluncur ke lubang kecil.

Pada saat pertama kalinya penisnya masuk ke vaginaku, vaginaku terasa sakit, tetapi setelah beberapa menit berlalu vaginaku terasa nikmat dan geli, orang itu memompa terus penisnya ke vaginaku, dan akhirnya vaginaku mengeluarkan cairan putih kental, dan sedikit darah, aku tahu mungkin vaginaku sudah berlobang karena dimasuki oleh roket yang ditembakkannya padaku. Seketika itu juga badanku terasa lebih lemas, dan baru pertama kalinya dalam hidupku ada perasaan yang bercampur aduk semacam ini.

Aku semakin meronta dan mendesah, "Ahh.. ahh.. ahh", tetapi dia belum puas dan terus menciumiku dan meraba-raba payudaraku yang mengeras. Setelah beberapa menit berlalu aku sampai tidak bisa apa-apa karena tubuhku sudah tidak bisa digerakkan karena terlalu lemasnya. Setelah sekitar satu jam dia meniduriku, dia kelihatannya sudah puas dan memberi aku waktu untuk bernafas. Dia memberiku istirahat selama kurang lebih dua jam, setelah sadar aku melihat pria yang satunya lagi membuka bajunya sampai telanjang bulat. Aku takut sekali jangan-jangan mereka bertiga akan memperkosaku bergantian.

Tetapi ketakutanku ini menjadi kenyataan, pria yang kedua itu kembali meniduriku dan meraba-raba tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia juga membawa bulu sulak, dan mengesek-gesekkan bulu itu ke kakiku dan setelah itu ke payudaraku dan setelah itu baru ke vaginaku. Aku merasa geli luar biasa di dalam hidupku. Setelah puas bermain-main dengan tubuhku, maka ia mulai memasukkan roketnya ke dalam vaginaku, dan ini roket dari jenis yang ke 2 yang masuk ke dalam vaginaku. Setelah itu dia memompa dengan sekuat tenaga sampai keluar cairan lagi dan tubuhku kembali lemas, dia meniduriku selama kurang lebih satu jam dengan posisi tubuh tengkurap.

Setelah itu aku diberi waktu istirahat kembali kurang lebih 1 jam. Setelah ini aku berfikir bahwa orang ketiga ini akan memperkosaku seperti yang lainnya, dan aku akan pasrah. Dan benar, dia kemudian memompa penis yang sudah dilengkapi dengan alat kontrasepsi. Tetapi orang ini liar sekali. Dia ini lain dari kedua temannya yang membuat aku nikmat. Dia ini memompa penisnya dengan liar dan dengan sekuat tenaga, dia mengabaikan rontaanku dan desahanku yang semakin keras suaranya. Dia menikmati tubuhku selama kurang lebih 2 jam. Dan entah rasanya ini apa, tetapi aku sangat mengantuk atau aku sedang pingsan aku tidak tahu.

Setelah aku bangun, kamar ini dalam keadaan kosong, dan aku melihat tubuhku sendiri yang masih dalam keadaan telanjang bulat dan dengan penuh cairan-cairan kental. Lalu aku berniat bangun dari tempat tidur itu, tetapi aku mengalami kesulitan karena tubuhku masih lemas karena telah diperkosa oleh 3 orang secara bergantian. Tetapi aku berusaha kembali dengan sekuat tenagaku untuk bangun, dan aku mencari pakaian seragamku yang kupakai tadi malam. Tetapi seragam itu sudah tidak ada.

Lalu aku berjalan ke pintu keluar, dan aku terkejut karena rumah ini begitu besar. Dengan tubuh yang telanjang maka aku menuju ke suatu ruangan, mungkin ini adalah ruang tamu, dan aku mendengar seseorang telah menelepon seseorang. Katanya, "Ya, aku telah menikmati tubuh gadis itu, kalau kamu tidak percaya aku dapat memperlihatkan rekaman kejadian yang nikmat semalam kepada kamu, dia lumayan cantik dan rasanya nikmat sekali, tubuhnya putih sekali, lebih putih di luar dugaanku kalau kamu mau mencoba, kamu boleh datang ke rumahku. Apa? Minggu depan? Tidak usah kuatir itu bisa diatur. Sekarang kamu kalah dan aku beri waktu sampai nanti sore untuk memberikan uangnya kepadaku".

Aku baru sadar bahwa aku adalah barang taruhan, dan jika dia berhasil menikmati tubuhku maka di menang. Lalu aku memberanikan diri untuk mengintip ruangan itu dan aku melihat pakaianku di dekatnya. Maka aku menemuinya dan memintanya, tetapi dia berkata, "Baik ini ambil pakaianmu, tetapi CD, kaos dalam, dan BH mu aku bawa untuk kenang kenangan. Jangan mencoba untuk melaporkan kejadian ini ke polisi, kalau kamu tidak ingin tahu semua temanmu tahu akan hal ini. Kalau kamu kusuruh datang ke sini, maka kamu harusa datang, jika kamu menolak, maka aku akan menyebarkan rekaman dan foto-foto itu kepada seluruh teman-temanmu. Aku sudah membuat surat palsu bahwa kamu tidak masuk ke sekolah hari ini karena sedang sakit. Setiap jam istirahat pertama kamu harus menemui aku di kelasku, di 3 IPA 2, dan kamu setiap sekolah jangan memakai CD dan BH, terutama pada saat olahraga. Kalau kamu tidak menaati peraturan ini, kamu akan kukimkan ke tempat pelacuran selama semalam".

Aku menyetujuinya, dan setelah itu dia memberikan pakaianku. Aku merasa deg-degan dan payudaraku kembali mengeras karena aku telanjang bulat di depan seorang laki-laki. Lalu aku memakai pakaian OSIS, dan rasanya aneh sekali, rasanya seperti tidak memakai pakaian sebab payudaraku masih agak terlihat transparan, dan aku tidak memakai CD.
Setelah itu aku pulang dengan taksi, dan aku berusaha menutupi payudaraku yang besar dengan lengan tanganku supaya tidak dilihat oleh supir taksi itu. Tetapi payudaraku masih terasa keras dan tegang sehingga putingnya masih dapat terlihat walaupun transparan.

Aku sampai di rumah sekitar jam 10-an, dan aku tahu bahwa ayah dan ibuku sedang kerja dan tidak ada di rumah. Lalu pembantuku membukakan pintu, tetapi aku masih berusaha menutupi payudaraku agar tidak terlihat. Setelah masuk ke dalam rumah, maka aku langsung ke kamar, lalu mandi dan ganti baju. Aku berusaha mencari alasan jika ditanya oleh ayahku mengapa aku kemarin tidak pulang. Akhirnya aku mendapatkan alasan yang tepat. Aku khan sering pergi ke rumah saudaraku di dekat sekolahku dan kadan-kadang tanpa izin terlebih dulu.

Lalu aku tidur sampai sore, dan ayahku pulang, lalu aku bilang kepada ayahku bahwa aku kemarin tidak pulang ke rumah karena sudah terlalu malam dan aku menginap ke rumah saudara. Setelah besoknya aku sekolah maka sesuai persetujuan, aku tidak memakai BH dan CD untuk ke sekolah, dan aku hanya memakai kaos dalam dan seragam pramuka. Sesampai di sekolah aku merasa asing dan malu jangan-jangan ada yang tahu kalau aku diperkosa. Tetapi aku berusaha PD, dan tidak memikirkan kejadian itu, tetapi aku tidak bisa, bahkan di dalam pelajaran pun aku tetap memikirkan kejadian semalam.

Setelah istirahat pertama, maka aku mencari kelas 3 IPA 2, dan aku tahu bahwa mereka bertiga adalah teman sekelas. Lalu mereka pura-pura baik padaku, dan akhirnya aku tahu nama-nama mereka satu per-satu. Yang memperkosaku pertama kali bernama Andi, yang kedua bernama Erick, yang ketiga bernama Deni. Lalu Andi memperkenalkan aku kepada teman-teman sekelasnya seolah-olah aku ini adalah pacarnya. Mereka lalu mengatakan bahwa mereka mengincar aku sejak lama, dan sejak aku bertugas sebagai pengibar bendera, maka mereka melihat ada murid baru yang cantik dan bodynya bangkok, dengan payudara yang besar pula untuk gadis seumuranku. Lalu setelah ia tahu bahwa aku akan pulang malam pada saat itu, maka mereka merencanakan niat itu.

Lalu aku dipaksa duduk di sebelahnya dan memasukkan tangannya ke dalam rokku untuk memastikan bahwa aku tidak memakai CD. Ternyata tidak cuma itu saja dia terus-terusan meraba-raba Vaginaku sehingga terasa geli dan akhirnya Payudaraku mengeras lagi. Lalu Andi membuat jadual aku harus disuruh ke rumahnya hari selasa, kamis, dan sabtu.
Kalau selasa untuk Erik, kalau Kamis untuk Deni, dan kalau sabtu untuk Andi. Dan Andi bilang kalau besok sabtu aku akan dijemput, pacaran dulu baru buka-bukaan.

Aku tahu bahwa mereka itu cuma ingin menikmati tubuhku dan nggak akan membuat telanjang. Pada saat berhubungan bersama Andi aku terkejut mengapa Andi nggak pake kondom? Lalu aku sangat takut klo aku bakal hamil, dan ternyata Andi memompa penisnya di bawah payudaraku, di atasnya perut, dan tubuhku penuh dengan cairan lengket. Lalu Andi mengambil kondomnya dan memasangnya, lalu memompanya di dalam Vaginaku sampai Pagi.

Aku juga merasa hubungan itu hubungan yang nikmat dan enak, membuat tubuh terasa geli. Dan aku sekarang tahu banyak dari pengalaman sex bersama mereka. Dan aku diajari bermacam-macam gaya, seperti gaya 69. Setelah nanti keluar cairan pasti tubuh ini akan lemas sedikit, tetapi akan merasa nikmat. Pernah juga aku diolok-olok sama teman sekelas gara-gara aku nggak pake BH saat olahraga. Pada saat itu olahraga sedang latihan lari, dan temanku melihat dan memperhatikan bahwa payudaraku terlihat bergoyang kencang sekali dan terlihat besar. Maka mereka bertanya kepadaku, "Vic, kamu nggak pake BH ya?". Aku berbohong dan menjawab, "Pake koq". Karena teman-temanku banyak yang nakal, setelah gurunya pergi lalu mereka bersama-sama memegangi tubuhku dan lainnya membuka bajuku untuk membuktikan bahwa aku nggak pake BH.

Lalu kaos olahragaku dibuka dan mereka melihat bahwa aku benar-benar tidak pake BH. Lalu teman-teman pada mengejekku dan menertawakanku. Lalu aku cepat-cepat menutupi payudaraku dan dalam pikiranku adalah menunggu mereka pergi dulu baru memakai kaos lagi. Tetapi si Susan tidak puas dan dia menghasut teman-teman begini katanya, "Jangan-jangan dia juga nggak pake CD, kita lepas celananya aja yuk." Lalu mereka kembali memegangi tubuhku dan melempar kaos yang sedang kupegang ke lapangan, dan si Susan langsung melepas celanaku dan melempar celanaku ke tengah lapangan.

Pada saat itu aku merasa malu yang luar biasa selama hidupku. Aku pada saat itu telanjang bulat di hadapan teman-teman sekelasku. Dan mereka pada tertawa, mereka malah menggodaku dengan membawa lari kaos dan celanaku. Dan aku mengejar mereka dengan tubuh tanpa busana di lapangan basket sekolahku. Lalu rasanya aku hampir menangis. Dan setelah puas menggoda aku, maka si Dewi mengembalikan baju dan celana kepadaku. Ini pengalaman pertamaku lari bugil di lapangan dan dilihat banyak orang. Aku malu sekali, karena vaginaku sudah berbulu dan payudaraku menjadi besar karena telanjang di hadapan orang banyak.

Lalu teman-temanku mengejekku bahwa payudaraku besar sekali untuk gadis yang baru berusia 16 tahun. Yang menjadi beban mentalku yang lain adalah aku seringkali digoda oleh teman-temanku dan menyuruh aku menari telanjang di depan kelas jika guru tidak ada atau pada saat pelajaran kosong. Dan kalau aku tidak mau maka mereka menjadi liar, mereka mengunci pintu keluar kelas, dan menyuruh satu orang untuk mengawasi jika ada guru yang datang, lalu mereka menggendongku, melepas semua pakaianku sampai telanjang bulat, dan mengikatku di atas meja, dan bukan cuma laki-laki yang mengerumuniku tetapi juga banyak juga yang perempuan, mereka semuanya mempermainkan tubuhku, menggerayangi semua tubuhku dari ujung rambut sampai telapak kaki.

Mereka mencubiti aku bagaikan barang dagangan. Ada pula yang mempermainkan payudaraku bagaikan susu sapi. Bahkan ada yang membawa gunting untuk menggunting bulu-bulu vaginaku. Tubuhku terasa geli sekali dan merasa bahwa aku ini hanyalah seperti barang dagangan yang dipertontonkan orang banyak

Tamat 

Diperkosa Tapi Mau




Demam piala dunia sudah berlalu, namun aku memiliki sebuah cerita dewasa yang tidak begitu saja aku bisa lupakan. Kuakui memang diriku ini adalah cewek binal, yang selalu merindukan dekapan para pria disetiap hasrat seksku yang lagi tinggi.


Seperti biasa, hari itu aku pulang dari kantor tepat jam 5 sore. Setibanya di rumah, aku langsung menuju kamar tidurku lalu bersiap-siap untuk mandi kemudian makan malam.

Setelah selesai makan, Winnie, adik perempuanku mengingatkan bahwa Brazil, salah satu tim sepakbola favoritku, akan bertanding melawan Portugal pada pukul 9 malam nanti.

“Masih lama nih bola-nya. Luluran dulu ah…” kataku dalam hati sambil menuju kamar tidur.

Sebenarnya dulu aku bukanlah gadis yang terlalu memperhatikan perawatan tubuh. Namun karena tuntutan dari pacarku, saat ini aku mulai lebih sering merawat tubuh. Dari mulai menyabuninya dengan sabun khusus, luluran dan lain-lain. Sekarang aku sudah bisa menuai hasil kerja kerasku merawat tubuh. Kini aku mempunyai kulit yang lebih putih dan halus.

Setelah sekitar 1 jam aku luluran, terdengar teriakan Winnie dari ruang TV “Teh! bolanya udah mau maen nih!!”

Kemudian aku memutuskan untuk segera keluar dari kamar tidur dan menuju ruang TV. Aku sempat bingung karena di ruang TV aku hanya melihat Winnie saja.

“Nie, Ayah nggak ada di rumah ya?” tanyaku.

“Ada di kamar kok Teh…” jawabnya singkat.

“Kok tumben sih? Biasanya si Ayah nggak mau ketinggalan kalo lagi ada siaran Piala Dunia…” tanyaku lagi.

“Gak tau tuh. Ngantuk kali!” jawab Winnie cuek sambil tetap memperhatikan layar TV.

Tak lama setelah aku duduk di sofa ruang TV, pertandingan pun dimulai. Sebenarnya aku bukanlah penggemar fanatik sepakbola seperti Ayah dan Winnie. Aku hanya mengikuti pertandingan beberapa tim saja, seperti Brazil, Argentina dan juga Spanyol.

“Sayang banget Kaka nggak bisa main…” aku mengeluh karena pemain idolaku tidak dapat bermain karena terkena hukuman kartu merah pada pertandingan sebelumnya.

Tanpa terasa, babak pertama yang menegangkan berakhir sudah. Mungkin karena tadi aku terlalu bersemangat dalam memberi dukungan kepada Brazil, aku merasa bahwa udara di dalam rumah menjadi sangat gerah. Akhirnya sambil menunggu babak kedua dimulai aku memutuskan untuk keluar rumah.

“Nie, Teteh keluar dulu yah…” kataku kepada Winnie.

“Iya Teh. Tapi jangan lama-lama yah. Entar keburu mulai bolanya…” kata Winnie mengingatkan.

“Iya. Sebentar aja kok. Abis gerah banget nih…” jawabku sambil mengikat rambutku.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumahku saja. Malam itu aku memakai baju yang tipis dan ketat berwarna abu-abu serta celana pendek warna coklat. Karena tadinya aku tidak berniat untuk keluar rumah, maka aku sengaja tidak memakai bra. Aku sempat memperhatikan putingku tercetak cukup jelas di bajuku ini, tapi aku cuek saja karena aku pikir hanya keluar sebentar dan tidak akan jauh-jauh dari rumah. Setelah menutup pintu depan dan gerbang, aku pun mulai berkeliling di daerah sekitar rumahku.

“Kok tumben ya sepi banget? Pasti karena lagi ada bola deh…” pikirku karena tidak biasanya di daerah rumahku yang masih terhitung daerah ‘perkampungan’ sudah terlihat sepi pada pukul 10 malam.

Tanpa terasa cukup jauh juga aku berjalan dari rumahku hingga akhirnya aku sampai di sebuah pos jaga. Dari kejauhan aku dapat melihat ada 4 orang Bapak-Bapak di dalam pos jaga tersebut. Karena penasaran, aku kemudian berjalan mendekati pos jaga yang hanya diterangi oleh pencahayaan seadanya. Ukurannya juga memang tidak terlalu besar, namun dapat untuk menampung hingga 5-6 orang dewasa.

‘Tok… Tok… Tok…’ aku mengetuk tiang pos jaga tersebut dengan cukup kencang supaya Bapak-Bapak itu dapat mendengar ketukanku.

“Permisi Bapak-Bapak…” kataku sopan sambil berdiri di depan pintu.

“Eeh, ada Dik Tita…” jawab seorang Bapak yang posisi duduknya paling dekat pintu.

Akhirnya aku dapat mengenali siapa saja yang sedang berada di pos jaga tersebut. Bapak yang duduk paling ujung bernama Pak Wawan, orangnya botak dan gendut tapi terkenal dengan keramahannya. Di sebelahnya bernama Pak Diman, berbadan besar, berkulit hitam serta wajahnya menurutku sangat jelek apalagi kepalanya ditumbuhi dengan rambut penuh uban. Lalu ada Pak Jono, berkulit hitam dan memiliki badan paling kurus dibandingkan dengan yang lainnya. Dan yang terakhir, bernama Pak Bara, kumisnya yang tebal menambah kegarangan wajahnya yang sangar dan penuh luka. Aku maklum saja, karena dulu Pak Bara adalah preman di daerah sini. Mereka semua adalah tetanggaku yang kutaksir usianya kira-kira sama dengan ayahku.

“Dik Tita ngapain malem-malem keluar rumah?” sapa Pak Wawan.

“Jalan-jalan aja Pak. Abis gerah banget di rumah…” aku mengatakan hal tersebut sambil mengibas-ngibaskan leher bajuku.

“Emangnya Dik Tita nggak takut keluar rumah malem-malem gini?” tanya Pak Bara.

“Kan ada Bapak-Bapak. Jadi saya bisa tenang deh…” jawabku sambil tersenyum.

Sekilas aku melihat ke 4 Bapak itu memandangi puting payudaraku yang semakin tercetak jelas di baju ketatku akibat keringat yang membasahi tubuh bagian depanku. Mungkin karena takut aku menyadarinya, mereka semua langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah TV yang sudah menayangkan pertandingan babak kedua.

“Oh iya Bapak-Bapak. Saya boleh ikutan nonton bola bareng-bareng nggak?” tanyaku.

“Emangnya Dik Tita suka bola juga ya?” tanya Pak Diman.

“Lumayan suka nonton juga sih. Apalagi pas Piala Dunia kayak sekarang…” jelasku kepada Pak Diman.

“Oh Gitu? Ya udah nonton bareng-bareng aja sama kita di sini. Saya mah seneng banget kalo Dik Tita mau nemenin kita-kita nonton bola. Betul kan Bapak-Bapak?” balas Pak Wawan dengan tersenyum lebar sehingga menunjukkan giginya yang tak terawat.

“Betul!!” Jawab Bapak-Bapak yang lain dengan serempak.

Aku hanya bisa tersenyum menahan geli mendengar jawaban dari Bapak-Bapak ini. Karena merasa akan lebih seru menonton pertandingan dengan mereka, tanpa pikir panjang lagi aku pun masuk ke dalam pos jaga lalu mengambil posisi duduk di atas tikar tepat di tengah-tengah mereka.

Karena takut adik perempuanku kuatir, maka aku mengabarkan lewat SMS bahwa aku sedang menonton bola di rumah tetanggaku. Aku juga mengingatkannya agar tidak mengunci gerbang dan pintu depan apabila aku pulang agak malam. Setelah yakin SMS-ku sudah terkirim, aku pun menonton bola bersama Bapak-Bapak tersebut sambil makan kacang tanpa memikirkan bahwa kacang dapat menumbuhkan jerawat pada kulit wajahku yang mulus.

Di saat sedang menonton bola, aku merasa mereka tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah paha putih mulusku dan juga ke bagian payudara yang seolah-olah mengalahkan daya tarik pertandingan Brazil melawan Portugal. Mereka menatapnya dengan tidak berkedip. Aku yakin saat ini mereka semua pasti mulai terangsang dan ingin sekali dapat menikmati tubuhku.

Entah kenapa saat itu sempat terlintas di pikiranku untuk menggoda Bapak-Bapak tersebut. Mungkin karena selama ini aku belum pernah sekalipun melakukan persetubuhan dengan orang yang lebih dewasa. Aku pun berpura-pura mengantuk lalu menyenderkan badanku pada dinding pos jaga. Aku menutup mata supaya Bapak-Bapak itu dapat merasa lebih leluasa untuk menggerayangiku apabila aku sedang tertidur lelap.

Seperti dugaanku, setelah aku pura-pura tertidur pulas, aku merasakan tanganku diangkat ke atas oleh salah seorang dari mereka, lalu orang tersebut memegangi pergelangan tanganku dengan cukup kencang.

“Umpanku udah mulai mengena nih…” kataku dalam hati.

“Eh, tutup dulu pintunya biar aman…” walaupun mataku tertutup, aku dapat mengetahui bahwa suara tadi adalah milik Pak Wawan.

Tak lama setelah aku mendengar suara pintu pos jaga ditutup, aku merasakan ada sebuah tangan mulai meraba-raba pahaku yang kemudian disusul oleh sebuah tangan yang besar dan kasar menyusup masuk ke dalam bajuku lalu meremas-remas kedua buah payudara milikku sekaligus memainkan putingnya. Mungkin karena melihat aku tetap tertidur, perlahan-lahan tangan yang tadinya meraba-raba pahaku mulai merambat ke atas hingga sampai ke payudaraku. Aku bahkan dapat mendengar suara nafas mereka yang semakin memburu. Tampaknya mereka sudah terbakar nafsu. Aku sendiri berusaha keras meredam gairahku yang mulai naik.

“Eeeeeennggh…” aku akhirnya mengeluarkan desahan lembut menggoda ketika merasakan dua buah tangan secara bersamaan memilin puting payudaraku.

Sementara itu aku merasakan ada yang sepasang tangan lain yang menarik celana pendek dan juga celana dalamku.

“Memeknya Dik Tita bagus banget. Nggak ada jembutnya…” terdengar suara berbisik di bawah sana.

Tiba tiba perasaanku seperti tersengat ketika dengan perlahan jari-jari tangan tersebut menyentuh dan menekan-nekan vaginaku yang sudah tidak tertutup apapun. Jari-jari tadi mulai merayap masuk dan menyentuh dinding kewanitaanku. Lalu aku merasakan benda tumpul dan basah, yang kuduga itu adalah sebuah lidah, mulai menyentuh bagian dalam vaginaku.

Saat itulah aku pura-pura mulai tersadar lalu membuka kedua mataku.

“Aaahh… Paak… Ja-jangan!! Jaaangaa… Mmmmmhhh…!!!” kataku terputus karena tiba-tiba mulutku dibekap oleh seseorang yang tadi ada di belakangku.

Aku pura-pura meronta agar tidak terlihat seperti aku yang menginginkannya. Rupanya Pak Diman dan Pak Jono yang memainkan kedua buah payudaraku, sedangkan Pak Bara asyik menikmati vaginaku dengan lidahnya.

“Pantes aja ada rasa gelinya…” pikirku dalam hati karena kumis Pak Bara terus menggesek-gesek bibir luar vaginaku sehingga menimbulkan sensasi yang berbeda.

Akhirnya aku benar-benar larut dalam kenikmatan yang sedang melanda diriku. Pak Diman dan Pak Jono mulai membuka kaosku sehingga kini aku sudah dalam keadaan telanjang bulat.

“Waaaah teteknya Dik Tita mulus bangeeet!!” komentar Pak Diman yang tepat berada di depan payudara kananku.

“Bener Man! Udah pahanya mulus, teteknya putih lagi…” tambah Pak Jono ikut mengomentari payudaraku yang putih mulus terpampang dengan jelas di depan matanya.

“Kalo Bapak lepasin Dik Tita janji nggak bakal teriak yah…” kata Pak Wawan yang hanya aku jawab dengan anggukan.

Karena yakin sudah menguasaiku, Pak Wawan melepaskan bekapannya pada mulutku sehingga aku merasa sangat lega.

“Aaaaaaaaaaaah….” aku mendesah akibat sentuhan mereka.

Melihat diriku yang sudah pasrah tak berdaya, Pak Diman dan Pak Jono bersorak gembira. Mereka mengerubuti dan mulai menggerayangi tubuhku. Pak Diman dan Pak Jono meremas-remas kedua payudaraku dengan brutal sehingga membuat tubuhku merasa panas dingin. Tidak cukup puas hanya meremas-remas buah dadaku saja, Pak Diman kemudian menghisap payudaraku yang sebelah kanan, sedangkan Pak Jono mengenyot payudara bagian kiriku.

“Teteknya Dik Tita emang manteb banget dah!!” ujar Pak Diman.

Kelihatannya Pak Bara sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dilakukan oleh teman-temannya terhadap tubuhku. Dia masih terlihat menikmati bibir luar hingga rongga dalam vaginaku lalu melakukan jilatan-jilatan dan menyedotnya. Tubuhku menggelinjang merasakan birahi yang memuncak karena merasa geli sekaligus nikmat di bawah sana.

“Memeknya Dik Tita wangi deh!! Beda banget sama bini saya…” kata Pak Bara di sela-sela menikmati vaginaku.

“Oooooooh… Aaaaaaahhh… Enaaaaakkk…” aku mengerang-erang keenakan.

Sekarang Pak Diman, Pak Jono dan Pak Bara sudah mendapat jatah mereka masing-masing. Pak Wawan sepertinya juga tidak mau ketinggalan, dia mulai mencium dan menjilati leher mulusku semakin yang menggiurkan karena basah oleh keringat. Setelah Pak Wawan puas bermain di bagian leherku, dia menarik kepalaku dengan perlahan ke arah belakang sehingga kepalaku agak mendongak ke atas. Dengan penuh nafsu Pak Wawan langsung mencumbu serta melumat bibirku, lalu dia menyelipkan lidahnya masuk ke dalam mulutku hingga aku gelagapan. Walaupun bau nafas Pak Wawan sungguh tidak enak, tetapi yang bisa kulakukan hanyalah membuka mulutku dan membiarkan Pak Wawan memainkan lidahnya di dalam mulutku.

“Eeeeeemmmmmhhh…. Eeeeehhhmmm…” erangku ketika mulai dikeroyok mereka berempat.

Kini, tubuhku sudah seperti boneka bagi mereka, karena mereka bisa berbuat sesuka hati terhadap tubuhku. Mereka menikmati jatah mereka dengan penuh nafsu. Pak Diman dan Pak Jono terus menjilati kedua buah payudaraku serta menggigit kecil kedua putingku putingku yang sudah menegang itu. Pak Wawan terus menerus memainkan lidahnya di dalam mulutku, dan aku juga membalasnya dengan memainkan lidahku sehingga lidah kami saling membelit. Aku dapat merasakan kalau ludah kami berdua menetes-netes di sekitar bibir karena kami berciuman sangat lama.

Dikerubuti dan dirangsang sedemikan rupa membuat aku merasakan gejolak yang luar biasa melanda tubuhku tanpa bisa kukendalikan.

“Ooooh… Aaaaaaah… Nngggg… Aaaaagh…” aku mengerang dan menjerit keenakan.

Pak Bara kini semakin membenamkan kepalanya di antara kedua pahaku, dan karena agak geli akupun merapatkan kedua pahaku sehingga kepala Pak Bara terhimpit oleh kedua paha mulusku.

“Enak ya Dik Tita… Sluuuurrpp… dijilatin Bapak? Eehmmm… Sluuurrp…” tanya Pak Bara tanpa menghentikan jilatan dan hisapannya pada vaginaku terlebih dahulu.

“Eeeeenak bangeeeet Paaak…!!” aku terus mendesah nikmat.

Terus-terusan menerima serangan birahi secara bersamaan dari 4 orang pria yang berbeda pada daerah sensitifku, aku jadi tidak kuat menahan lama-lama sehingga dalam waktu kurang dari 10 menit tubuhku sudah seperti tersengat arus listrik yang menandakan kalau sebentar lagi aku akan mencapai orgasme.

“Paaak Baraaa… Saayaaaa mauuu keluaaaarr!! Aaaaaaaaaaaah….!!!” aku berteriak dengan kencang.

Tidak lama kemudian cairan orgasmeku mengalir keluar dari vaginaku. Pak Bara yang berada tepat di depan lubang vaginaku semakin liar menjilati vaginaku yang sudah sangat basah oleh cairanku tadi.

‘Slurrpp… Sluurrrpp…’ cairanku yang mengalir dengan deras dilahap oleh Pak Bara dengan rakus.

“Wih!! Cairan memeknya Dik Tita manis dan gurih banget!!” komentar Pak Bara.

Setelah cairanku sudah hampir habis, ke 3 bapak yang tadi masih sibuk dengan bagiannya masing-masing langsung menghentikan aktivitas mereka, kemudian mendekat ke arah vaginaku.

“Mmmmmmhhhh…” desahku menerima jilatan demi jilatan pada sisa-sisa cairan orgasmeku yang masih ada di sekitar bibir vaginaku hingga mereka semua kebagian.

“Sekarang Bapak-Bapak mau masukin penisnya ke dalam sini nggak?” aku bertanya sambil menunjuk vaginaku.

“Mau banget dong Dik!!” jawab Pak Jono semangat.

“Beneran nih nggak apa-apa kalo kita entotin Dik Tita rame-rame?” tanya Pak Bara dengan wajah tidak percaya.

“Beneran kok Pak! Masa saya bercanda sih…” jawabku serius.

“Wah Bapak-Bapak!! Yang punya udah ngebolehin tuh!!” kata Pak Jono dengan wajah senang sekaligus keheranan mendengar jawabanku barusan.

Tentu saja mereka semua tidak menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Mereka semua langsung membuka baju dengan terburu-buru. Mereka pasti sudah sangat tidak sabar ingin merasakan kehangatan tubuhku yang sudah kupasrahkan untuk mereka berempat. Untuk lebih merangsang mereka, kubuka ikat rambutku sehingga rambutku kini terurai sampai menyentuh bahu. Sekarang ke 4 Bapak-Bapak ini sudah dalam keadaan telanjang bulat dengan penis mengacung tegak menghadap seorang gadis yang sepantasnya menjadi anak mereka.

“Gede-gede banget!!” kataku dalam hati.

Tentu saja aku kaget dengan ukuran penis milik Bapak-Bapak ini yang berukuran sekitar 17-18 cm dengan diameter yang sangat besar. Mungkin juga karena selama ini aku baru melihat penis yang ukurannya hanya mencapai 15 cm saja. Aku juga masih sempat memperhatikan, betapa kulit ke 4 Bapak ini hitam dan kasar bila dibandingkan dengan kulitku yang putih mulus.

“Dik Tita pasti bakal keenakan dientot sama kita-kita…” kata Pak Diman kepadaku.

Tadinya aku sempat merasa ngeri memikirkan Bapak-Bapak yang memiliki tubuh besar ini akan menjarah habis tubuh mungilku. Namun ternyata membayangkan semua itu malah membuat aku terangsang hebat dan gairahku naik tak terkendali. Aku tanpa sadar menanti dan berharap mereka akan memberikanku kenikmatan melebihi yang baru saja melandaku.

“Siapa yang bakal duluan ngentotin Dik Tita?” tanya Pak Jono kepada teman-temannya.

“Gue dulu deh!! Napsu gue udah di ubun-ubun nih!!” teriak Pak Wawan yang nampaknya sudah sangat tidak sabaran lagi untuk bisa menyetubuhiku.

“Enak aja! Gue dulu dong!! Gue udah lama banget pengen ngentotin Dik Tita!!” teriak Pak Diman tidak mau kalah.

Seperti kumpulan anak kecil yang sedang berebut mainan, mereka semua tidak mau kalah ingin menjadi yang pertama kali mencobloskan penis mereka ke dalam vaginaku yang masih sangat sempit walaupun sudah tidak perawan lagi.

“Udah dong Bapak-Bapak jangan pada rebutan gitu!!” kataku dengan nada kesal.

“Ja-jangan marah dong Dik Tita. Iya deh kami semua nggak bakal berebut lagi…” jawab Pak Wawan.

“Ya udah. Biar adil gimana kalau saya aja yang milih?” tanyaku.

“Boleh juga idenya Dik Tita tuh!” kata Pak Jono.

Aku melihat ke arah penis mereka berempat dan aku menemukan kalau penis Pak Bara adalah yang paling besar di antara yang lain, hitam serta dipenuhi urat-urat menonjol. Maka aku memilih penis Pak Bara untuk mengisi liang vaginaku, lalu aku memilih penis milik Pak Wawan yang tidak kalah besar untuk aku hisap.

“Ayo ke sini Dik Tita…” ajak Pak Bara yang sudah terlentang di atas tikar.

Tanpa perlu disuruh lagi, aku mendekati Pak Bara yang sudah kelihatan bernafsu sekali melihat kemulusan tubuhku yang terlihat seksi karena penuh dengan keringat, tidak hanya karena udara di dalam yang memang gerah, namun juga karena perlakuan mereka terhadapku tadi. Kemudian aku naik ke atas tubuh Pak Bara lalu membimbing penisnya untuk masuk ke dalam vaginaku.

“Saya masukin penis Bapak pelan-pelan dulu ya…” aku berkata kepada Pak Bara.

Pak Bara hanya menganguk sambil tersenyum memandangi diriku. Karena ini adalah pertama kalinya vaginaku dimasuki oleh penis berukuran besar, maka penis Pak Bara hanya dapat masuk sebagian saja. Walaupun baru menancap setengahnya, batang penis Pak Bara itu membuat liang vaginaku terasa begitu sesaknya. Urat-urat pada batang penis itu berdenyut denyut menambah sensasi yang kurasakan.

“Aaaaaaah… Memeknya sempit banget!! Untung banget gue bisa ngentot sama Dik Tita!! Eemmhh… Ooohh…” komentar Pak Bara.

“Oooooohhh… Aaaaaahhhh… Enaaaakkk bangeeeet Paaak…” erangku karena tidak kuat merasakan sensasi luar biasa yang ditimbulkan dari tusukan penis Pak Bara pada vaginaku.

Pak Bara membiarkanku agar terbiasa dengan ukuran penisnya. Namun tetap saja penisnya belum dapat masuk semuanya ke dalam vaginaku. Untungnya vaginaku tidak terasa perih sehingga aku dapat menikmatinya. Di saat yang bersamaan Pak Bara juga menjilati payudaraku dan menggesek-gesekkan kumisnya ke putingku yang membuat birahiku semakin memuncak.

“Aaaaaaaaaahhhh…” aku semakin mendesah menerima sodokan penis sekaligus jilatan pada payudaraku.

Di tengah-tengah persetubuhanku dengan Pak Bara, aku masih sempat melihat Pak Jono dan Pak Diman sedang mengocok penis mereka sendiri. Sepertinya mereka berdua sudah sangat terangsang melihat pemandangan menggiurkan di depan mereka sekaligus tidak sabar ingin mencicipi tubuhku.

“Sepongin penis Bapak dong Dik. Daripada mulutnya nganggur…” tiba-tiba Pak Wawan berdiri di hadapanku dengan senyum yang memuakkan sambil mengarahkan penisnya ke arah wajahku.

Dengan tidak sabaran, Pak Wawan menjejali mulutku dengan penisnya, penis itu ditekan-tekankan ke dalam mulutku hingga wajahku hampir terbenam pada bulu-bulu kemaluannya. Aku cukup bisa menikmati menghisap penisnya, walaupun baunya sungguh tidak enak. Kedua buah zakarnya juga aku pijati dengan tanganku.

“Gilaaaa!! Maanteebb banget sepongan Dik Titaaa!!!” ceracau Pak Wawan.

Aku pun menelan penis Pak Wawan hingga menyentuh daging lunak di tenggorokanku. Pemiliknya semakin mendesah tidak karuan menikmati service mulutku. Setelah beberapa menit kumainkan di dalam mulutku, penis Pak Wawan mulai berkedut-kedut, lalu tidak lama kemudian Pak Wawan akhirnya ejakulasi di mulutku.

“Aaaaaaaaaaagh… Oooooooooh…” Pak Wawan melenguh panjang dan meremas-remas rambutku saat aku menelan semua spermanya tanpa ingin menyisakan sedikitpun.

“Eeeeemmmm…” aku menikmati sperma milik Pak Wawan yang keluar sangat banyak .

“Dik Tita cakep-cakep doyan minum peju!! Hahaha…” komentar Pak Jono sambil tertawa melihatku dengan rakus membersihkan penis Pak Wawan dengan mulutku.

“Kirain Dik Tita cewek alim! Taunya liar juga yah…!!” Pak Diman juga ikut berkomentar.

Aku benar-benar larut di dalam pesta seks ini dan sudah tidak peduli lagi bahwa di mata mereka aku sudah berubah dari gadis yang alim menjadi seorang pelacur murahan.

“Sepongan Dik Tita emang hebaaat bangeeet!!” komentar Pak Wawan yang sedang menunggu penisnya menyemburkan sperma ke dalam mulutku hingga tetes terakhir.

Tergiur dengan apa yang aku lakukan terhadap penis Pak Wawan, tak lama kemudian Pak Jono dan Pak Diman langsung mendekat dan berjalan ke depanku lalu mereka menyodorkan penis mereka masing-masing ke arah wajahku. Tanpa ragu lagi, aku mengocok penis Pak Jono dan mengulum penis Pak Diman secara bersamaan.

“Aaaaaaaahhh… Terrruusss Dik Titaaaaaa!!” desah Pak Diman ketika aku mengemut kepala penisnya serta menyentil-nyentilkan lidahku ke lubang kencingnya.

Sekarang aku bergantian memaju-mundurkan batang kejantanan Pak Diman dengan tanganku secara perlahan, sementara mulutku menghisap penis Pak Jono.

“Aduuuh… E-enak banget Dik!! Aaaaaaah…” kata Pak Jono dengan bergetar.

Mungkin karena aku sudah lama tidak menerima serangan sekaligus seperti ini, aku pun cepat mencapai orgasme hanya dalam waktu kurang dari 10 menit.

“Ooooooooohh… Aaaaaaggggh…” sambil melepas sebentar hisapanku pada penis Pak Jono aku pun mengerang panjang karena tidak tahan dengan nikmat yang mendera.

Karena vaginaku sudah licin oleh cairan orgasme, maka penis Pak Bara dapat amblas sepenuhnya. Aliran cairan vaginaku tertahan oleh penis Pak Bara yang sedang keluar masuk vaginaku sehingga berbunyi setiap kali Pak Bara memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.

Penis itu terasa seperti sedang menyodok bagian terdalam dari vaginaku, mungkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun aku merasakan sakit yang bercampur nikmat.

“Oooh sempit bangeeet Dik!! Enaknyaaa… Aaaaaaah…” Pak Bara mulai meracau sambil terus memompa penisnya.

Untung saja aku masih bisa mengimbangi kekuatan Pak Bara walaupun sudah mengalami 2 kali orgasme. Sementara itu, Pak Diman dan Pak Jono menarik penis mereka dari mulutku karena mereka tidak ingin keluar cepat-cepat.

“Mmmmhhhh… Aaaaaaaaahhhh…!!!” aku mengeluarkan desahan yang sempat tertahan karena tadi mulutku penuh dengan penis.

Akhirnya 5 menit setelah aku mencapai orgasmeku yang kedua tadi, aku merasakan penis Pak Bara yang sedang mengisi vaginaku mulai berdenyut-denyut menandakan kalau Pak Bara akan mencapai orgasme. Pak Bara mempercepat sodokan penisnya terhadap vaginaku yang membuatku merasa sedikit perih karena penis besarnya itu keluar masuk dengan cepat dan kuat padahal lubang vaginaku masih sangat sempit. Namun setelah terbiasa akhirnya aku menemukan rasa nikmat dibalik rasa perih itu.

“Aaaaahhhh… Dik Titaaaaa!! Bapaaakkk… Keluuaarrrr!!!” teriak Pak Bara.

“Keluariiiin di dalem aja Pak…!! Aaaaaaaaah…” pintaku dengan lirih.

Dan tak lama kemudian, Pak Bara sudah menyemburkan spermanya yang hangat ke dalam rahimku, lalu nafas Pak Bara tersengal-sengal sehingga dia memutuskan untuk menghisap-hisap payudaraku dengan mulutnya sambil menunggu penisnya memuntahkan semua isinya ke dalam vaginaku.

Baru sekitar 2 menit aku mengatur nafas dan tenagaku untuk menghadapi Pak Diman dan Pak Jono, ternyata Pak Bara mau aku bersimpuh di hadapannya lalu bertumpu dengan kedua lututku. Aku yang sudah mengerti maksud Pak Bara, langsung mengambil penisnya yang masih berlumuran sperma dan juga cairan vaginaku, kemudian membersihkan penis Pak Bara hingga spermanya tak bersisa lagi.

“Pak, saya udah bersihin penis Bapak sampe nggak ada sisanya nih. Sekarang saya main sama Pak Jono dan Pak Diman dulu ya…” kataku kepada Pak Bara.

“Makasih ya Dik Tita. Ya udah Bapak juga mau istirahat dulu…” jawab Pak Bara.

“Heh Pak Bara!! Kalo mau ngobrol entar aja!! Gue udah kebelet pengen ngentot Dik Tita nih!!” teriak Pak Jono.

“Ya udah. Sekarang gantian elo yang ngentot sana! Gue juga mau istirahat dulu…” kata Pak Bara cuek sambil memakai kembali celana dan bajunya.

“Sekarang Dik Tita ambil posisi tiduran…” perintah Pak Jono.

Kali ini giliran aku yang mengambil posisi terlentang di atas tikar. Aku menekuk kedua kakiku lalu melebarkannya bersiap disetubuhi oleh Pak Jono dan Pak Diman. Kedua Bapak itu pun memandangi vaginaku yang masih rapat dan tanpa bulu itu dengan wajah penuh birahi.

Mungkin karena sebelumnya sudah ada kesepakatan antara Pak Diman dengan Pak Jono, maka Pak Diman-lah yang mengambil giliran selanjutnya untuk menyetubuhiku. Tanpa basa-basi lagi, Pak Diman segera menyergap dan menindih tubuh mungilku. Dengan penuh nafsu Pak Diman menjejalkan penisnya yang amat besar itu ke dalam vaginaku. Aku terbeliak, merasakan kembali sesaknya vaginaku.

Karena vaginaku sudah banjir dengan cairanku serta sperma Pak Bara, maka penis milik Pak Diman yang berukuran besar dapat dengan mudah masuk ke dalam vaginaku. Kini vaginaku sudah dimasuki oleh penis yang berukuran besar untuk kedua kalinya. Namun aku sungguh menikmatinya dengan penuh penghayatan sampai-sampai dengan tidak sadar, aku menutup mataku.

“Oooh… Memeknya Dik Tita enaaak bangeeet!! Kontol gue kayak diurut-urut!!” erang Pak Diman.

Penis itu terasa seperti sedang menyodok bagian terdalam dari vaginaku, mungkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun aku merasakan sakit yang bercampur nikmat. Tanpa sadar, kakiku melingkari pinggang Pak Diman, seakan tak ingin penisnya terlepas.

“Aaaaaahhh… Oooooohh… Mmmmhhhhhhhh…” desahku karena tidak bisa menahan rasa nikmat yang menyerangku.

Karena tidak sabar menunggu, Pak Jono mulai menaruh penisnya di depan mulutku yang masih belepotan sperma dari Pak Wawan dan juga Pak Bara. Tanpa malu-malu lagi aku memegang penis yang sudah sangat tegang itu dan segera membenamkannya ke dalam mulutku. Kemudian aku mulai mengulum penis Pak Jono yang hanya masuk sebagian hingga pipiku terlihat cekung ke dalam.

Aku sempat melirik ke arah Pak Wawan dan Pak Bara sudah duduk memakai celana panjang mereka sambil menghisap rokok dan meminum kopi dengan tontonan mereka yang lebih seru dari Piala Dunia, yaitu aku yang sedang dikerubuti oleh dua orang lelaki berkulit hitam alias Pak Diman dan Pak Jono.

Baru beberapa menit aku melakukan oral seks Pak Jono sudah berteriak “Dik Titaaa!! Bapaaak keluaaaar… Oooooh… Enaaak…”

‘Croot… Crooot… Croooot’ semburan hangat sperma Pak Jono pun keluar di dalam mulutku hingga membasahi kerongkongan. Seperti sudah ketagihan, aku terus melahap, menjilati dan mengulum penis itu hingga bersih dari sisa-sisa sperma yang masih menetes.

“Lho kok Pak Jono udah keluar aja? Masa kalah sama sepongannya Dik Tita? Gimana kalo sama memeknya yang seret Pak…” kata Pak Bara dengan nada sedikit mengejek disambung tawa Pak Wawan yang duduk di sebelahnya.

Pak Jono hanya tersenyum malu tanpa berkata apa-apa. Sementara itu Pak Diman masih terus menggerakkan penisnya ke dalam vaginaku dengan sangat perlahan dan mencabutnya dengan cepat. Saat itu yang terdengar hanyalah suara pompaan penis serta suara desahan nafasku dan Pak Diman yang saling memburu. Sodokan demi sodokan Pak Diman benar-benar luar biasa, seolah memompa gairahku menuju orgasme.

“Aaaaaaaaaaaaahh… Sayaa keluaaarr Paaaak!!” aku sudah tidak tahan lagi sehingga aku melepaskan orgasmeku yang ketiga.

“Sa-sayaaa juga keluaaaar Dik…!!” erang Pak Diman ketika memuntahkan lahar putihnya ke dalam vaginaku bersamaan dengan orgasmeku yang kutahan-tahan dari tadi.

Vaginaku kini terasa hangat oleh semburan sperma milik Pak Diman yang bercampur dengan cairanku. Kini daerah sekitar vaginaku yang sudah basah semakin banjir saja oleh sperma, sampai-sampai cairan itu meleleh di kedua pahaku.

“Eeeeemmhhhh…” nafasku tersengal-sengal.

Begitu juga dengan Pak Diman dan Pak Jono yang sudah menuntaskan nafsu setan mereka kepadaku. Sambil mengatur nafas, Pak Jono menciumi tengkuk leherku dengan lembut sedangkan Pak Diman yang tadinya ingin melumat bibirku, namun aku menolaknya karena aku mau mengatur nafasku dulu, mulai menjilati leherku yang penuh dengan butiran keringat.

Setelah nafas kami bertiga sudah normal kembali, mereka berdua berjalan untuk mengambil pakaiannya masing-masing. Sedangkan aku berdiri dan bersiap memakai baju serta celana pendekku yang berserakan di depan TV yang sudah tidak menayangkan acara bola lagi.

“Udah dulu yah Bapak-Bapak. Saya mau pulang dulu…” aku pamit kepada mereka semua yang masih terlihat kelelahan.

“Jangan pulang dulu dong Dik Tita!” Pak Bara melarangku pergi sambil memegang tanganku.

“Emangnya Bapak-Bapak masih belum puas?” tanyaku.

“Iya!!” jawab mereka hampir bersamaan.

“Tapi kan Bapak-Bapak udah pada lemes kayak gitu. Lagian saya udah capek banget nih…” kataku.

“Bentaran juga udah kuat lagi kok Dik…” kata Pak Wawan yang sepertinya masih belum cukup puas karena dia memang belum merasakan bersetubuh denganku.

“Aduh gimana ya? Udah malem banget nih Pak…” aku berusaha mencari alasan untuk menolak permintaan mereka.

“Ayo dong! Dik Tita mau kan?” pinta Pak Wawan memelas.

“Bapak kan juga belom ngerasain ngentot sama Dik Tita…” sambung pak Jono lagi.

“Iya Dik! Kan dingin kalau kita cuma berempat. Kalo ada Dik Tita kan bisa bikin kita-kita anget…” tambah Pak Diman.

“Ya udah boleh deh. Asal Bapak-Bapak janji nggak akan cerita hal ini sama orang lain ya. Biar jadi rahasia kita berlima aja. Gimana?” tanyaku.

“Yah kalo itu mah nggak usah disuruh Dik! Masak Bapak mau bilang-bilang sih…” jawab Pak Wawan menyanggupi.

Karena terlanjur menyanggupi permintaan mereka, aku yang baru mengenakan celana dalamku mulai melepaskannya lagi, hingga kini tubuhku sudah dalam keadaan bugil. Penis milik Pak Wawan, Pak Diman, Pak Bara dan Pak Jono yang tadinya sudah dalam keadaan lemas mulai mengeras lagi karena melihat tubuh putih mulusku yang tidak tertutup sama sekali.

Kemudian aku mulai memanggil mereka satu per satu dan membiarkan vaginaku menjadi bulan-bulanan lidah mereka. Bahkan ketika masing-masing sudah mendapatkan jatah untuk mencicipi vaginaku, mereka berempat kembali menjilati seluruh tubuhku sehingga berlumuran air liur mereka.

“Mulai lagi yuk Dik Tita…” pinta Pak Wawan tidak sabaran.

“Silakan Bapak-Bapak nikmatin tubuh saya sepuasnya…” kataku mengijinkan.

Lalu dimulailah pelampiasan nafsu bejat 4 orang pria tua terhadapku. Kali ini aku disetubuhi oleh 4 Bapak-Bapak itu secara bergiliran. Mulai dari Pak Wawan, Pak Jono lalu Pak Diman dan yang terakhir oleh Pak Bara. Mereka juga menikmati tubuhku dengan berbagai posisi.

Karena mereka sangat menikmati himpitan vagina serta teknik oral seks-ku, maka mulai dari vagina, mulut bahkan seluruh tubuhku terus-menerus disemprot sperma oleh mereka berempat. Aku juga sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali aku mengalami orgasme. Setelah sudah benar-benar kelelahan, kami yang masih dalam keadaan bugil beristirahat sembari minum dan mengobrol.

“Dik, kan dari tadi peju kami semua dikeluarin di dalem. Apa Dik Tita nggak takut hamil?” tanya Pak Bara yang paling banyak menyemprotkan spermanya ke dalam vaginaku di tengah obrolan kami.

“Emang Bapak-Bapak nggak mau tanggung jawab kalau nanti saya hamil?” tanyaku memasang wajah serius.

Seketika muka mereka langsung terlihat pucat mendengar pertanyaanku barusan.

“Hahaha… Tenang aja Bapak-Bapak. Saya lagi nggak subur kok sekarang…” kataku sambil tertawa melihat wajah ketakutan mereka semua.

Mereka semua pun ikut tertawa lega setelah sadar kalau yang kutanyakan tadi hanya sekedar gurauan saja.

“Bapak-Bapak, saya pamit pulang yah. Udah malam banget nih…” ujarku seraya melihat jam di HP-ku yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.

“Tapi kapan-kapan Dik Tita mau nemenin kami lagi kan?” tanya Pak Diman.

“Boleh aja Pak. Asalkan yang lagi jaga Bapak-Bapak berempat…” jawabku sambil memakai pakaianku.

“Gampang! Itu mah bisa Bapak atur!” jawab Pak Bara yang memang bertugas mengatur jadwal jaga.

“Tapi jangan keseringan ya Pak! Lama-lama saya bisa hamil dong…” candaku.

“Pokoknya beres deh Dik!” jawab Pak Wawan.

“Ya udah saya pulang dulu ya Bapak-Bapak…” kataku sambil bergegas keluar pos jaga karena takut mereka ingin menikmati tubuhku lagi.

“Hati-hati ya Dik…” kata mereka serempak.

Aku pun langsung berlari kecil menuju rumah karena suasana di sekitar rumahku sudah sangat sepi dan gelap. Di perjalanan pulang aku sempat mengingat kejadian yang baru aku alami adalah pengalaman yang sungguh memuaskan. Pada dasarnya aku memang sangat menikmati seks keroyokan seperti tadi, apalagi ditambah yang menyetubuhiku adalah Bapak-Bapak yang sudah sangat berpengalaman.

Setibanya di rumah aku melihat lampu sudah gelap dan tidak terdengar lagi suara TV menyala.

“Sepertinya semuanya udah pada tidur…” aku memaklumi karena sekarang sudah lewat tengah malam.

Setelah mengunci pintu gerbang dan pintu depan, aku langsung menuju ke kamar mandi untuk membasuh tubuhku yang bermandikan sperma. Setelah selesai berganti pakaian, aku merebahkan tubuhku yang sangat lelah setelah hampir 2 jam dinikmati oleh Bapak-Bapak tadi. Untunglah besok hari Sabtu, sehingga aku bisa istirahat seharian penuh. Tak butuh waktu lama aku pun tertidur dengan pulas.