Jumat, 06 Desember 2013

Keluarga Gila Sex


Nama saya Roy W, ciri-ciri saya adalah sebagai berikut: berbadan kecil, wajah tidak menarik dengan kacamata serta penakut, tapi saya jago gambar bahkan juara di sekolah saya. Ini adalah pengalaman nyata saya, nama dan tempat sudah saya samarkan.

Kisah ini terjadi kira-kira 2 tahun lalu di SMA saya di kota tempat tinggal saya waktu itu. Waktu itu saya mempunyai pacar bernama.., anggap saja Novita namanya. Ternyata SMU itu benar-benar gila, terutama mengani hal yang akan saya beberkan nantinya dan juga ternyata Novita mempunyai ayah yang juga gila. Maka, teman-teman bacalah cerita berikut di bawah ini untuk mengetahui kenyataan yang gila ini di kota kelahiran saya.



Kisah ini dimulai ketika saya masih kelas 1 SMU di SMU XX(edited). Saya melihat Novita ini pertama kali di sekolahnya, dan saya rasa memang saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Yah.., memang kami berlainan sekolah tetapi kami berumur sama.

Singkat cerita, akhirnya kami jadian karena memang sama-sama suka. Tapi kira-kira setelah sekitar 3 minggu kami jadian, terjadilah peristiwa itu. Waktu itu saya menjemputnya di sekolahnya karena dia ada kegiatan sore. Saat itu hujan deras sekali, lalu sewaktu kami berjalan menyusuri lorong sekolah tersebut, sayup-sayup nyaris tidak terdengar kami berdua mendengar desahan-desahan nikmat dari ruang BP.

Kami langsung saja memberanikan diri untuk mengintip apa gerangan yang sebenarnya terjadi di dalamnya. Dan kami berdua sangat kaget, karena ternyata Pak Yono (sebut saja) dan Bu Ninik, guru BP di sekolahnya Novita tersebut sedang pesta seks di ruangan sempit nan pengap tersebut, dan tidak menyadari adanya 2 makhluk muda belia ini yang mengintip.

Tapi mendadak saya merasakan seseorang memukul kepala saya sehingga saya merasakan pening yang amat sangat di kepala dan terjatuh pingsan. Ketika bangun saya sedang duduk di kursi ruangan BP tersebut dalam keadaan terikat. Dan sungguh setengah mati, saya tidak dapat mempercayai pemandangan yang tersaji di hadapan saya waktu itu.

Saya melihat Pak Yono sedang asyiknya menjilati klitoris pacar saya Novi, Bu Ninik sedang memilin-milin puting Novi dan Pak Eko sedang 'mengerjai' lubang anus Pak Yono dari belakang. Pak Yono pun menjerit keenakan. Bu Ninik juga ikut mendesah-desah sendiri sambil terus memilin puting Novi, sedangkan Novi sendiri menangis sejadi-jadinya, tapi saya dapat melihat bahwa sebenarnya dia sendiri pun menikmati permainan gila tersebut. Bahkan yang lebih gila lagi, saya sendiri pun semakin lama semakin menikmati sensasi yang diciptakan oleh permainan mereka.

Lalu Bu Ninik mendekati saya dan langsung melepaskan celana saya dan membebaskan kemaluan saya yang langsung mengacung tegak melawan gravitasi dan mulai memaju-mundurkan kepalanya mengulum penis saya. Saya pun menggelinjang keenakan sambil berteriak. Hingga akhirnya, "Crutt.. crott.. croot..!" saya pun menyemburkan sperma saya di wajah Bu Ninik.

Oya, sebagai informasi saja, batang kemaluan saya berukuran 6 cm ketika ereksi, memang tidak termasuk besar sih, tapi paling tidak masih dapat ejakulasi.

Lalu saya melihat ke arah Pak Yono dan Pak Eko, dan ternyata mereka masih melanjutkan aksi mereka sampai akhirnya Pak Yono pun terkulai lemas keenakan. Waktu itu Pak Eko mengeluarkan spermanya di mulut Pak Yono. Saya sendiri heran, padahal penampilan Pak Yono ini benar-benar sangar, dengan kumis yang subur dan tampang killer, tapi ternyata dia dapat menikmati adanya kemaluan pria lainnya di lubang anusnya.

Akhirnya kami diperbolehkan pulang setelah diancam bahwa mereka akan mengeluarkan Novi dari sekolah dan akan membunuh saya apabila kami membocorkan hal yang barusan terjadi kepada orangtua kami. Saya sebenarnya memang takut dan tidak berani melawan, karena saya memang tergolong orang yang penakut.

Kami pulang dengan perasaan yang kacau dan tidak karuan, Novi masih terus-terusan menangis sambil memegangi kelaminnya yang mungkin masih perih sehabis dijilati Pak Yono. Saya pun memutuskan untuk tidak meninggalkan Novi karena memang saya sangat mencintainya dan saya tidak ingin membuatnya lebih sedih lagi dengan kepergian saya dari sisinya.

Kira-kira 2 bulan setelah hal itu, saya main ke rumah Novi waktu malam Minggu untuk memberikan hadiah valentine. Ketika sampai di depan rumahnya yang terletak di pinggir jalan besar, saya memencet bel pintu berkali-kali, tapi anehnya tetap saja tidak ada yang membukakan. Akhirnya saya nekat meloncat pagar dan masuk ke dalam rumah lewat garasi dan masuk ke ruang utama. Tidak ada seorang pun di sana.

Lalu saya samar-samar mendengar teriakan-teriakan kecil yang tertahan dari kamar utama. Dan betapa kagetnya saya ketika melihat bahwa ayah kandung Novi sendiri yang bernama Pak Subi masih menjilati vagina Novi sambil meremas-remas susu mungilnya itu. Saya ingin melabrak mereka tapi saya tahan karena disamping rasa penakut saya yang amat sangat ini, saya sebenarnya juga ingin terus melihat apa yang selanjutnya akan terjadi.

Sambil menelan ludah, saya melihat ayahnya menjilati klitoris mungilnya yang berwarna merah darah itu dengan sangat ganasnya.
Novi kelihatan sungguh-sungguh menikmatinya, karena dia berteriak-teriak, "Aach.. ahh.! Pahh..! Terus Pahh..! Jilat terus Pahh, ahh.. uhh.. ahh..! Aduh.. enakk.. enakk.. Novi.. ampiirr.. keke.. kekeeluarr.. Aahh..!"
Lalu Om Subi membalik tubuh novi menjadi posisi doggy style dan merenggangkan paha Novi sehingga saya pun dapat melihat dengan jelas tampak dalam vagina Novi yang sangat menggiurkan itu.

Karena mungkin sudah tidak tahan, Om Subi langsung menyogok vagina Novi dengan sangat kerasnya sehingga Novi pun berteriak menahan sakitt, "Ahh..! Sakitt.. Pahh..!"
Om Subi tidak memperdulikan teriakan anak gadisnya dan terus memompa batang kemaluannya ke dalam vagina Novi secara teratur dan mengeluarkan erangan-erangan tertahan.
"Ahh.. ahh.. ahh.. enak Vii.. tempikmu sungguh enak..! Lebih enak.. daripada Mamimu waktu perawan."

Dia lalu berganti posisi lagi menjadi posisi 'climbing a tree', dan memompa Novi dari bawah sambil memeluk tubuh mungil Novi dengan kencang, lalu akhirnya mereka berganti posisi lagi menjadi gaya 69 dan dia menjilati vagina Novi lagi.. dan lagi. Novi sendiri pun menikmati sensasi tersebut dan mulai mengulum batang kemaluan ayahnya.

Hingga akhirnya Om Subi pun tidak dapat menahan dorongan dari dalam batang penisnya dan berteriak, "Aahh.. akuu keluarr.. nikkmaatt.. sekallii.. ahh..!"
Novi pun tampak kaget, tapi karena kepalanya terus ditekan oleh ayahnya, maka mau tidak mau dia harus meminumnya sampai habis.
Novi hanya berkata, "Gurih Pah.., aku juga udah keluar ya..?"
Om Subi menjawab, "Iya Nov, punyamu juga gurih banget."
Lalu mereka tertidur bersama, mungkin karena kelelahan.

Ketika saya ingin berbalik dan bermaksud meninggalkan tempat ini dengan perasaan sangat bingung, ternyata saya baru sadar bahwa sudah dari tadi Mamanya Novi mengawasi dari sofa di belakang saya tanpa sepengatauan saya.
Dia berkata, "Ryo, bagus ya pertunjukkannya..?"
Saya pun termenung tanpa dapat menjawab karena sangat ketakutan.

Tapi tanpa diduga, ternyata dia mendekat lalu melepas celana saya dan mulai mengulum batang kemaluan saya. Terang saja saya yang sudah dari tadi menahan nafsu karena pertunjukkan ayah dan anak tersebut sangat menikmati kulumannya.
Saya pun mendesah tidak karuan, "Ahh.. ahh.. Taan.. Tee.. enaakk.. bangett.. sih.. kuluman.. nyyaa.. ahh..!"
Dan dia pun malah mempercepat frekuensi kulumannya sambil membuka bajunya sendiri satu-persatu.

Lalu saya diajaknya ke ruang kerja yang terletak di depan dengan alasan agar tidak membangunkan Om Subi dan Novi. Saya pun menurut seperti dihipnotis dan mengikutinya dari belakang. Lalu di sana dia langsung mengocok-kocok batang kemaluan saya sambil membimbing tangan saya yang satu lagi untuk dimasukkan ke lubang senggamanya. Maka saya pun mulai mengocok liang senggamanya yang sudah sangat becek itu keluar masuk.
Dia pun menggelinjang-gelinjang tidak karuan dan berteriak-teriak kecil takut kedengaran, "Ahh.. achh.. enak.. Ryo.. enakk.. teruuss..! Lebih cepet..!"

Saya pun mempercepat temponya dan dia mempercepat tempo kocokannya pada batang penis saya dan meremasnya keras-keras. Akhirnya dia bilang sudah tidak tahan dan minta agar batang kemaluan saya dimasukkan saja, padahal saya sendiri pun malah sudah hampir keluar. Dia pun membimbing penis saya dan diarahkan ke lubang senggamanya. Masuknya kemaluan saya ke lubang senggamanya diiringi dengan teriakan kami berdua.

Saya tidak dapat menggambarkan situasinya waktu itu, yang pasti vaginanya memang sudah lebar dan sangat-sangat basah. Tapi saya cuek saja karena saya pikir kapan lagi saya dapat mempunyai kesempatan seperti sekarang ini, yang penting kan sudah ngerasain begituan.

Akhirnya saya keluar duluan di dalam, karena saya memang sudah tidak kuat. Karena Tante belum puas, dia meminta saya untuk menjilati vaginanya itu. Maka saya turuti saja menjilati vagina Tante sampai dia kejang-kejang kenikmatan karena sudah puas, walaupun banyak putih-putih di dalamnya dan berbau busuk yang saya sendiri tidak tahu itu apa sampai sekarang.

Setelah itu saya disuruh pulang oleh Tante karena hari sudah mulai malam. Saya pulang dengan perasaan yang bahkan lebih kacau daripada pengalaman saya sebelumnya dengan guru-guru BP itu. Akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Novi dan kerabat-kerabatnya lagi karena mereka benar-benar keluarga gila.

Saya sekarang sudah di SMU kelas 3, dan kabar terakhir yang saya dengar dari teman saya di sekolahnya Novi ternyata sampai sekarang Novi dan guru-guru BP tersebut masih sering melanjutkan aksi gila mereka. Dan yang lebih gila lagi, Om Subi pun ikut-ikutan juga. Kalau mengenai Mamanya Novi, dia sekarang jarang pulang rumah dan hunting gigolo-gigolo muda di Jakarta.

Saya hanya dapat mendesah karena kecewa dengan mereka, saya harap mereka dapat bertobat. Ingin rasanya melaporkan perbuatan bejat guru-guru BP tersebut dan juga Om Subi pada yang berwajib. Tapi apa daya, saya sendiri benar-benar penakut, bahkan sampai sekarang pun masih sangat penakut. Biarlah Tuhan yang menegur mereka, saya hanya dapat duduk di sini sambil mengocok membayangkan Tante (Mamanya Novi) di dalam WC.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar